Tuesday, August 28, 2012

Langit Tempat Berteduh Terindah


Kita tidak pernah tahu letak ujung semesta. Menepi di antara sepi dalam sepersekian paruh waktu dan membuat api di tengah udara yang mendingin. Ada bintang di atas kita, meneduhkan kerapuhan yang terkadang tidak kuasa untuk dikalahkan. Setidaknya mereka yang berkilauan menjadi penghiburan.
Senja sudah terlewat, sayang. Waktulah yang membawa kita pada malam penuh doa. Seolah telah terluka dalam hingga harus berpeluh air mata dan senyum belum terkembang seperti layar-layar perahu, hanya getir hanya gelisah. Adanya demikian kini …
Resah berjubel mengantri untuk dieksekusi. Eksekusi peleburan, biar tidak bersisa. Kita bermalam, habiskan sepanjang jam yang ada dalam gelap, membunuh satu per satu resah tadi. Biarkan tangis beradu dalam dingin berteman bara api kecil ini yang tersisa, saat ini.
Doa terakhir untuk malam dalam langit yang teduh. Esok kan datang, waktu baru dalam hari yang kita awali dalam pagi yang terang. Bersemburat biru dengan hiasan awan cantik. Angin akan menerbangkan layarmu, dan senyum kan jua terkembang. Kita berlayar dengan muatan kapal masa lalu, membawa setiap inchi perih dan gurat sendu. Kita tenggelamkan mereka di tengah samudera, tanpa sisa.
Segenggam ini yang kita punya, bahagia.
Rumah kita ada di sini, atapnya luas luar biasa. Tenanglah, kita akan baik-baik saja sebab kita tahu langit adalah tempat terindah untuk berteduh.

Wednesday, August 01, 2012

Agustus


Selalu ada yang istimewa di bulan Agustus. Begitulah yang kupahami sejak kecil. Agustus berarti perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Yang artinya lomba-lomba di komplek rumahku dan malam pentas seni. Aku selalu menyambutnya tersebut dengan kegirangan, dan memenangkan banyak perlombaan. Mulai dari lomba membaca teks proklamasi, sepeda gembira, dan makan kerupuk. Hal itu tak pernah lepas dari dorongan ayahku yang lebay-lebaynya mengalokasikan waktu seharian penuh untuk menghias sepedaku dan adikku dengan kertas krep beraneka warna.

Beranjak dewasa, lomba-lomba agustusan sudah tak lagi aku ikuti, Agustus menyepi. Aku dipaksa untuk memahami makna lain tentang hari kemerdekaan, barangkali tentang cerita perjuangan pemuda masa itu. Sejak itu aku mulai menulis.

Agustus tahun ini tentu tak sama, Ramadhan dan Idul Fitri akan turut menghiasi. Aku ingat betul saat kecil lebaran selalu berdekatan dengan natal di akhir tahun. Tanggal lebaran yang bergeser tiap tahun menjadikan kali ini Agustus yang dapat giliran. Tak jadi soal, kuucapkan selamat kepada Agustus atas keberkahan yang terlimpah baginya di tahun ini.

Lebaran juga selalu jadi yang kutunggu-tunggu dulu, karena mudiknya, kue-kue manis, baju baru, dan bersenang-senang dengan saudara. Kesenangan macam itu tergradasi tiap tahun, kurasa. Beberapa tahun belakangan lebaran jadi membosankan, terutama setelah nenekku tiada yang artinya acara kumpul keluarga jadi tereliminasi. Baju baru juga tidak lagi menciptakan kesenangan yang segitunya. Akupun mulai (harus) mencari sumber kebahagiaan baru untuk memaknai Idul Fitri. Sejak itu aku mulai belajar tentang konsep kembali fitrah dan sebagainya.

Ya, semakin dewasa semakin aku merasakan ilmu “penciptaan” kebahagiaan untuk diri sendiri haruslah dikuasai. Sejak aku tahu bahwa manisnya permen hanya begitu-begitu saja dan ternyata terlalu banyak mengkonsumsinya dapat berdampak buruk pada kesehatan gigi, aku menyadari bukan sebuah bendalah sumber dari kebahagiaan. Sama halnya, sejak ayahku mulai marah bila aku mendapat nilai jelek di sekolah dan ibuku dengan banyak tuntutannya, aku makin memahami, manusia lain pun tak akan pernah jadi sumber kebahagiaan utama.

Tetapi tidak bisa begitu saja dinafikkan. Bahwa kehadiran keluarga, sahabat, kekasih, kembang gula, baju baru, dan buku kesayangan, merupakan pelengkap hidup yang dapat membiarkan diriku dengan leluasa belajar menemukan kebahagiaan baru setiap waktu.

Saat aku melihat kalender sore ini, dan melihat tanggal menunjukkan 1 Agustus 2012, entah kenapa ada rasa haru dan syukur yang luar biasa besar. Agustus kuharap akan sama indahnya seperti saat aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Agustus kuharap menjadi sebuah pembebasan dari Juli kemarin yang cukup kelabu. Agustus kuharap akan terlengkapi dengan benda hidup dan benda mati kesayanganku. Agustus ini kuharap jadi waktu yang tepat untuk memperdalam kecakapanku dalam menyayangi hati dengan berusaha senantiasa bahagia.


Agustus ini aku sudah bukan lagi berstatus mahasiswa. Sebuah alasan besar mengapa seharusnya bahagia, setelah empat tahun bergulat dengan buku-buku super tebal, 55 mata kuliah, dan 75 halaman skripsi.