Friday, December 21, 2012

A Place


When destiny brought me here …

 a place that I called it a home, with stories about life, love, and friendships. 
A place that always give me serene conditions from its simplicity through memorable years.
 A place that inked in heart like kids get tighter shoes every year, like trees get new branches in spring time, like caterpillars become cocoons and then transformed into beautiful butterflies. 
A place that has given me amazing phases of life never could be counted. 

The memories seem like endless, eternal, and inclusive.
 The atmosphere of city, I called it the bell of sadness and happiness. 
It saved my all stories behind, in silences and unique ways.

Wednesday, November 28, 2012

Tidak Hanya Sekedar Tulisan

Di dalam hidup yang sekali ini, idealnya kita berkeputusan dengan hati yang merdeka. Tidak salah punya idealisme, tidak salah punya impian, sebab itu adalah salah satu hal terindah yang dimiliki manusia. Ideal yang akan terus menjadi pertanyaan bila hanya duduk diam. Ideal yang akan musnah bila hanya disimpan dalam catatan, menjadi lembaran klasik yang hanya berbatas sebatas waktu hidup. Saat ini hati bertanya jalan yang akan membawa semua mimpi-mimpi ini, saat terbangun seperti berujung sepi sekian hari, tanpa ide. Harusnya laku ini lebih giat mencari, entah jalan setapak, jalan aspal, atau bahkan harus menebas rerumputan dan membuat jalan baru. Ya, harus lebih giat. Jangan menyerah terlalu cepat untuk sebuah usaha yang belum diusahakan. Saatnya mencari lebih giat, saatnya melatih hati agar lebih kuat, saatnya untuk tidak hanya sekedar menulis.

Selipan cerita 060912



Empat tahun, perahu ini mencapai titik transitnya yang kesekian. Alam dengan rahasianya telah membawanya berlabuh sementara di tepian, di titik transit terbaik yang ia temukan di tengah samudera. Perahu ini ingin berlayar lagi, sebab ia tahu tak mungkin layarnya mati terdiam menunggu dengan sepi. Sebentar lagi ya, logistik sedang dipersiapkan, layar sedang diperbaiki, biar ia kuat lagi menahan laju angin di depan, yang mungkin saja lebih kencang.
Nanti ada saatnya mengucapkan, selamat berlayar. Nanti, sabar menantikan untuk petulangan baru. Selamat Yunita Hani Pratiwi, S.P.
-6sept2012-

Thursday, October 18, 2012


Untuk mula paragraf ini terisi terimakasih untuk mereka yang hari ini membuat saya tidak menangis seharian. Untuk semangat, kata-kata, senyuman, dan doa yang tertuju buat saya, saya berterimakasih.
Untuk kedua orangtua yang menunggu anaknya pulang dengan kabar baik, semoga Allah memberikan keduanya perasaan bahagia.
Untuk hari dimana saya hanya bisa mengeja legowo dengan terbata-bata, saya tahu ini bukan hari terbaik, yang ada self ego mendominasi dan berat untuk bisa mengalahkannya, saya berusaha tiap menit untuk berpikir positif, untuk kesempatan yang akan diberikan Tuhan untuk saya, apapun itu, pastinya terbaik.
Soal esok yang tidak tertebak, seorang sahabat mengatakan, berbagi ceritalah dengan Tuhan. Ya benar. Esok, jadilah esok yang membahagiakan apapun itu.
mungkin sekarang adalah waktu, proses itu menyeleksi, cara terbaik melewatinya adalah menghadapinya dengan usaha yang dilakukan, ketidakmungkinan dan kemungkinan bukan urusan manusia lagi, maka berbagilah denganNya, Hani.

Cinta Yang Tegas


CINTA yang TEGAS; jika kamu mencintai, kamu merelakan diri dalam kepekatan yg nyaris tanpa ada lagi cahaya, yang kamu perlukan adalah adegan yang memaksamu tidak lagi percaya kepada keyakinan mata dan telinga, hingga mata hati tiba-tiba jadi cahaya yang benderang menyeruak dari nurani menerangi dirimu dan sekitarmu.
Jika kamu sanggupi cinta hingga jenis yang ke 4. Maka kau telah menegaskan kematangan cintamu. 
Bukan cinta yang menye-menye. Bukan cinta yg menuntut atau menghiba. 
Sebab telah muncul cahaya dr dalam diri yang terhubung dengan sumber cahaya, maka jikapun terus dalam gelap pekat tidak takut buta menyergap. 
Dan jika disaat paling pekat dan penuh lara, kamu masih mampu mempersembahkan cinta yang tulus, maka… 
Maka dalam keadaan lebih terang, cintamu serta merta telah menyatu dalam cinta luasnya semesta. 
Dan yang perlu diyakini, puncaknya pekat adalah hadirnya cahaya.
Cinta Tegas inilah yang akan menyambut dengan penuh sukacita datangnya fajar harapan dan benderang hati yang sabar dan matang.

Thursday, October 11, 2012

Aku, Kamu dan Rapuh

Jika aku diam bukan kecewa karena cintaku tak kau balas, tp aku sedang memberimu kesempatan menjadi matang kepengasuhan.
Jika aku berkata kasar, bukan karena aku lupa cara-cara lembut, tapi aku sedang memberikanmu palu demi memecah kebebalan.
Jika aku bersuara lantang bukan sedang membentak dan merendahkan, tapi sedang memberi penghormatan atas fungsi telinga dan hatimu.
Jika kalimat2ku menyakitimu bukan aku sedang melukaimu, aku sedang mewakili kecerdasanmu yg lama tandus kerontang.

'Aku' adalah nuraniku dan 'kamu' adalah aku yg rajin mengabaikan.

Seseorang menyuruhku bercermin, lalu aku melakukannya. Kudekati cermin, kupandangi bayangan elok dan cantik rupa, itu aku. Tp..
Kudekatkan, kusodorkan bahkan kutempelkan wajahku ke cermin supaya jelas, malah tak nampak rupaku.
Hidup bagai cermin, makin lekat ke cermin, makin tidak berujud, melebur dalam kehidupan.
Semua titah kemakhlukan adalah cerminku, dan cermin terbaik yg aku pilih sekarang adalah Tanah.
Kucoba rundukkan wajah ini untuk bercermin kepada bumi, kurendahkan, kulekatkan dan tiba2 aku bersujud meniru gerakan bumi dan selaksa jagad.
Belajar kepada kapur tulis, yg rela terkikis mengurai diri demi menyampaikan pesan.
Kapur memang rapuh, tapi dia kuat menoreh kalimat dan gambar di atas papan tulis. Menuturkan makna.
Kapur menyangga beban yang tak nampak secara jasad, rahasia dan tak kasat. Jika terjasad, kapur akan lantak menjelma serbuk dan jika manusia mengerti apa yg dia sangga, sesungguhnya sadar akan kerapuhan adalah pilihan bijaksana.
Bukan jenis kerapuhan untuk latah lalu patah, tapi rapuh yang berpinta kekuatan menyangga tugas meski terkikis dalam papan kehidupan.
Rapuh yang sadar menorehkan laku kebaikan, menuturkan makna, memanjingkan kearifan, dan menyampaikan keindahan.

Sunday, October 07, 2012

Pendamping

Seseorang yang berdiri di sampingku.
Menuntunku ke jalan kebaikan
Menjadi panutan dan idaman
Memahamiku dan menerimaku apa adanya.

Tak semua bisa berdiri disampingku
Ada rasa dalam diri ini yang berkata ya dan tidak
Ada kalanya ragu-ragu
tapi pendamping akan selalu mendapatkan jawaban pasti dariku

Entah kapan dia akan berdiri disampingku
tapi yang ku yakin
saat itu aku pasti sudah siap dan lebih dewasa
hingga
tak ada lagi sakit hati
dan pendamping telah berdiri disampingku serta tak akan berpaling.

Tuesday, September 25, 2012

Padhang Bulan


cahaya kasih sayang, menaburi malam
hidayah dan rembulan menghadirkan Tuhan
alam raya, cakrawala
pasrah dan sembahyang
yang palsu ditanggalkan
yang sejati datang
yang dusta dikuatkan topeng-topeng hilang
jiwa sujud, hati tunduk padaMu Tuhanku

lihatlah, lihatlah mentari baru
yang terbit dari dalam tekadmu
sesudah senja, di ujung duka
nikmati hilang mengalirnya cahaya
lirik karya Franky Sahilatua, musikalikasi Emha Ainun Najib, dan sekarang diyanyikan oleh Anda
Lagu yang memanggil hati, untuk tetap teduh dalam kuasaNya. Saya terhenyak sepanjang lagu.

Tuesday, September 11, 2012

Jauh


Panasnya Solo mengingatkan saya pada neraka. Padahal tidak pernah kesana, aneh sekali. Beberapa kali saya kurang menyukai siang yang teriknya berlebihan. Membakar kulit adalah risiko ke sekian yang saya pikirkan, tetapi kemampuan matahari untuk mendekap mata hingga mengriyip sungguh tidak membuat nyaman.

Apa yang salah dengan siang, apa yang salah dengan matahari. Siang sering mengajarkan tentang kenikmatan meneguk segelas jus segar. Siang juga membiarkan saya merasakan teduhnya rumah.

Saat balita saya sering sekali menangis pada pukul 19.00. Sedih sekali mengetahui bahwa hari beranjak malam. Yang artinya penghuni rumah akan segera terlelap, yang artinya lagi dunia saya akan menjelma sepi. Hal itu terjadi karena kebiasaan saya tetap terjaga di malam hari, dan sedihnya hantu selalu dicitrakan akan keluar tengah malam.

Malam sama tak bersalahnya. Setelah dewasa saya merasakan kekuatan malam sebagai ruang kontemplasi paling nyaman. Malam membuat lampu kota terlihat ratusan kali lebih cantik. Hampir selalu. Sepertiga malam jadi tempat paling sejuk untuk para pencari Tuhan.

Malam dan siang, panas dan dingin, tinggi dan rendah, besar dan kecil. Tak ada yang salah dengan salah satu dari setiap padanan kata sifat tersebut. Masing-masing darinya adalah dua mata koin yang mesti jadi pilihan. Kadang kita juga tak punya pilihan, lantas buat apa risau. Menerima saja dan kemudian menikmati selalu jadi solusi paling solutif.

Dari kesemuanya itu, ada sepasang kata sifat yang buat saya mutlak jadi pembeda hidup hari ini. Jauh dan dekat.


Jauh adalah saat saya harus pergi merantau selama masa perkuliahan yang sudah 4 taun ini terlalui (Alhamdulillah) dan butuh usaha yang luar biasa untuk menemui orang tua tiap minggunya. Jauh adalah saat selama satu tahun kekasih harus menunggu waktu yang tepat untuk pulang ke Solo bertemu keluarga dan kekasihnya. Jauh adalah saat para sahabat pergi ke pantai bersama dan merayakan ulang tahun, tetapi saya hanya bisa "ikutan" dengan melihat gambarnya. Jauh adalah saat seorang ibu menangis karena anaknya harus kembali ke perantauan setelah mudik beberapa hari. Jauh butuh bermenit-menit setiap hari untuk menekan sesak di hati agar logika bisa kembali sadar untuk melanjutkan perjuangan.

Silahkan temukan semua pembenaran bahwa jauh itu baik, tetapi kita butuh jujur bahwa jauh hampir selalu tak menyenangkan.

Monday, September 10, 2012

Klise


Klise adalah ucapan selamat ulang tahun semoga panjang umur.
Klise adalah ucapan semangat ya, kamu pasti bisa!
Klise adalah ucapan all iz well.
Klise adalah ucapan selamat tidur, semoga mimpi indah.

Begitulah kiranya banyak orang mengatakan dengan mudah, ah klise. Mungkin mereka belum tahu bagaimana rasanya ingin menyayangi seseorang tapi tidak lagi menemukan kata-kata baru. Atau mungkin mereka belum diizinkan untuk tahu bahwa saat jarak terbentang, seekspresif apapun seseorang kepada yang sedang dirindukan, pesannya akan sulit tersampaikan tanpa beberapa kalimat seru.

Klise adalah wajar, karena mungkin sebuah kata tidak punya sinonim sebanyak hari yang dilalui manusia.

Hidup pun klise, selalu diawali dengan bangun pagi dan diakhiri dengan mengantuk lalu pergi tidur.

Selamat siang, semoga harimu menyenangkan!

Tergugah oleh kabar haru sahabat yang sudah disetujui skripsinya (Yohana & Niken) dan pangeran yang sedang menjalani pekan penuh adaptasi, 10 September 2012

Hibernasi


Kebiasaan sangat buruk sudah menggelayuti saya –setidaknya setahunan ini- membiarkan laptop dalam hibernate mode. Bukannya sekalian melakukan shut down. Alasan utama kepraktisan selalu jadi pemenang dalam setiap pergulatan hati -yang khawatir perangkatnya akan rusak-. Salahkan skripsi dan kroninya. Membuat saya jadi tak rela membiarkan inspirasi “ilmiah” pergi karena menanti loading saat menyalakan laptop.

Hampir menginjak empat hari, pasca jadi sarjana, akhirnya saya ampuni laptop itu. Mati beberapa saat. Benar-benar mati. Pasti akan saya nyalakan lagi sih, tapi belum tahu kapan karena komputer rumah barangkali jauh lebih menarik.


Mungkin sudah sadar lama, tetapi baru mencoba mengakui bahwa nggak cuma laptop yang telah berhibernasi sering-sering dan lama-lama. Pemiliknya juga, saya. Sudah lama sekali hati terasa amat rapuh dan digerogoti melankolia kamar tertutup. Melankolia kamar tertutup adalah perasaan sedih berlebihan yang disebabkan berpikir sendiri berlebihan; berencana, mengkonsepkan, dan menyimpulkan sendiri secara keterlaluan. Minim aksi. Setidaknya itu definisi bikinan saya sendiri, karena daftar istilah psikologi yang masih rendahan.

Sudah saatnya menyala kembali. Bukan sleep, bukan hibernate. Sudah saatnya membuka pintu kamar, menyadari kehangatan matahari, deru mobil di jalan, semilir angin sore, romantisme malam, kehangatan keluarga, keceriaan sahabat, dan panggilanTuhan dari luar pagar. Di kepala –dari dulu- sudah dapat tercium aroma bukit tinggi yang mesti dan (harusnya) bisa didaki. Tak hanya itu, peta sudah dibuat di tangan. Entah sejak kapan. Thinkconceiveplan. Tapi apalah artinya tanpa aksi. Sudah terlalu lama saya jadi manusia tanpa aksi. Atau melakukan aksi yang justru di luar rencana, atau melakukan aksi sesuai rencana tapi tidak terlalu bersungguh-sungguh, atau berkonsep tanpa henti, atau apalah yang membuat darah di tubuh terasa tidak benar-benar mengalir.

Sebenarnya saya tidak seberuntung laptop, karena saya tidak mungkin menyala lagi bila sampai di-shut down. Masih bagus berkutat di hibernate mode

Monday, September 03, 2012

Rahasia Perempuan


Perempuan itu gampang naksir dengan hal sepele.
Tidak perlu kekuatan super atau jampi untuk menarik perhatian mereka. Beberapa perempuan bisa langsung jatuh hati dengan kejadian yang seringkali dianggap remeh:

Seorang lelaki yang membawa damai dg berkata:
” Tenang, aku yg handle bagian sini. Kamu konsen sama bagianmu aja. “ atau
” Tenang, kan kita punya Tuhan. “
Seorang lelaki yang mengumandangkan adzan dengan syahdu.
Seorang imam yang melafalkan Al Fatihah dengan fasih.
Seorang lelaki dengan humor yang ga garing.
Seorang lelaki yang memaklumi sisi lemah perempuan, menunggui mereka menangis sesenggukan tanpa menginterupsi.

Perempuan harus mengumpulkan keberanian untuk berdandan.
Seorang perempuan bisa menghabiskan waktu berjam-jam (bahkan berhari-hari) untuk memutuskan apakah dia akan merubah penampilannya yang konvensional menjadi lebih dinamis. Mereka akan menghabiskan waktu berpatut di cermin, ditemani bermacam baju yg sudah berserakan di lantai. Bingung. Jika perempuan dandan, itu tandanya mood mereka sedang baik. Jangan merusaknya dengan berkata ” Eh, kamu dandan ya? Wuuush… “, terutama untuk para lelaki, karena kalimat itu akan membuat mereka kecewa dan hilang keberanian untuk berdandan lagi. Jika kalimat itu datang dr sesama perempuan, efeknya akan berbeda. Sesama perempuan justru bisa saling koreksi, saling memberi tips and tricks, dan berkata ” Cantik lho kamu hari ini. “

Perempuan sangat pintar berkamuflase.
Jika sedang jatuh cinta, perempuan bisa menyembunyikannya dengan apik. Tampil kalem di depan orang yg mereka taksir, padahal hatinya meletup-letup. Berusaha cool saat lelaki-berpredikat-suami-idaman menyapa di lorong kampus, padahal hatinya lonjak-lonjak kegirangan.

Perempuan itu masih konvensional.
Menunggu ditemukan, tarik ulur, sok jual setengah mahal. Itulah yang mereka lakukan dalam fase pencarian jodoh. Tentu mereka juga do something ( memberi sinyal rumit, senyum semenawan mungkin, dan memberikan perhatian yang tidak mereka bagi ke semua lelaki), tapi pada akhirnya mereka yang akan tetap menunggu, dengan sabar. Menunggu jodoh yang masih tersesat entah dimana, sembari berdoa: ” Semoga yang terbaik menurut saya, juga terbaik menurut Tuhan. “

Perempuan itu selalu jujur pada sahabat-sahabatnya.
Pertemuan para perempuan akan menjadi momen yang emosional. Mereka akan bertutur dengan jujur, dari kehidupan cinta, pencapaian, dan yang tidak boleh ketinggalan: gosip. Mereka akan saling tahu siapa naksir siapa, siapa mengidolakan apa, bahkan siapa benci siapa. Forum perempuan akan dimulai dengan mata yang mengerjap penasaran,cerita yang mengalir bergantian, dan diakhiri dengan tawa cadas (yg seringkali menertawakan diri sendiri). Sungguh kaya, mereka bahagia.

Tampan bukanlah segalanya.
Bagi perempuan, tampilan fisik seringkali tidak menjadi prioritas dalam kriteria jodoh. Mereka sangat mencari faktor ‘nyaman’ saat menjalin sebuah hubungan. Nyaman di sini beraneka macam indikatornya. Misalnya: nyambung obrolannya, nyambung guyonannya, merasa aman dan diayomi, dan masih banyak lagi. Intinya, ketika perempuan merasa klik dengan seseorang, maka dia tidak sungkan memberikan sinyal-sinyal yang harus bisa dipahami oleh lelaki dengan baik. Seorang teman pernah berkata: “Jodoh yang sholeh itu nilainya 1. Kalo mapan, pintar, tp ga sholeh nilainya 0. Kalo sholeh, mapan, pintar, nilainya 100. Tapi jangan kebanyakan juga 0-nya. Susah dicari.” Maka perempuan akan jatuh cinta pada lelaki bernilai 1000: sholeh, nyaman, mapan, dan pintar. Syukur-syukur ganteng, hingga nilainya jadi 10.000. :)
*catatan khusus: kriteria ‘mapan’ di sini bukanlah sisi matre dari perempuan. Mereka kaum yg realisitis. Setahu saya, kita tidak bisa mengandalkan cinta untuk kehidupan yang lebih serius nanti. Istilah bekennya: “Mau makan cinta?”. Tapi perempuan juga akan dengan senang hati berusaha bersama untuk menjadi mapan. Beberapa dari mereka justru sangat bersemangat untuk bekerja. Jadi, jangan syedih ya :)

Perempuan sangat senang dibilang cantik.
Oke, yang ini bukan rahasia.

P.S:
Yang saya tuliskan hanyalah beberapa hasil pengamatan yang saya lakukan belakangan ini. Terimakasih untuk semua perempuan yang secara tidak sadar telah membantu. Tentu saja tidak semua perempuan memiliki rahasia yang sama. Masih banyak sisi perempuan yang tidak terduga, mengejutkan, dan misterius. Kau yang harus menemukannya sendiri. Tanya saja mereka.

Peluk


Peluk kaya akan emosi: bahagia, haru, hampa, kosong.

Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, menyambut buncah tawa dan wajah yang sumringah. Pelukan bahagia akan membuat dua orang menghentakkan pundaknya, diikuti dengan gerak kaki berirama, ke kiri, ke kanan. Salah satunya akan berbisik dalam senyum, yang lain akan merapatkan dekapnya. Momen itu akan ditutup dengan kalimat syukur: Alhamdulillah yang menguar di udara dan mengembang dalam hati.

Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, tanpa kata-kata. Dia ajaib, karena bisa mengubah seorang yang awalnya saya baik-baik saja menjadi seorang yang melankolis. Saya baik-baik saja akan menjadi saya tidak baik-baik saja, saya sedang bersedih, dan saya memang butuh pelukan. Peluk akan membawa kejujuran dalam haru. Dia akan melunakkan topeng dan memaklumi lemahnya manusia.

Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, walau kadang beriring dengan buliran air mata. Peluk membawa kehidupan bagi hampa. Menguatkan, seperti dedaunan yang melindungi rantingnya. Kali ini doa-doa yang terurai, menemani nyawa yang kembali terkumpul. Peluk mengembalikan semangat. Semangat untuk memahami takdir, semangat untuk hidup.

Namun ada kalanya hangat peluk sudah tidak tertangkap indra. Rasanya sama persis dengan udara yang memberi ruang di antara dua tubuh: kosong. Mungkin saat itu peluk butuh jeda. Mungkin saat itu peluk butuh pengertian. Jeda untuk berbenah, dan pengertian untuk menunggunya kembali, atau, merelakannya pergi. 

SENDU


Sendu. Kadang rasa itu mengembun tebal di rongga hati. Menyisakan dingin yang menyesap perlahan, meretas hangat. Sendu memang menyebalkan. Dia handal memainkan emosi hingga hujan turun di sudut mata, mengaburkan pandang.
Namun, sendu tidak selalu suka dituduh sebagai pengacau.
” Bagaimana kamu bisa merasakan bahagia jika kamu tidak pernah bersapa denganku? Nanti semua emosi kau kira sama. “

Mungkin, sinar matahari baru akan muncul ketika hujan telah reda. Mungkin, kita membutuhkan sendu untuk lebih mengenal bahagia.

Sunday, September 02, 2012

Terima Kasih


Hey, kamu harus bangun. Ini Minggu pagi. Jangan bergelayutan di kasurmu kelamaan.
Aku tahu, aku tahu. Semuanya.
Kesedihanmu, sakitmu, dan seberapa kuat kamu ingin berjuang. Tak sekedar bangkit.
Sudah kamu jalani medan berkerikil yang tak mudah, berlari mengejar keretamu di rel-rel besi karatan.
Tak lebih dari cukup, tapi bukan juga terlalu kurang.
Terima kasih, itu saja yang perlu kau katakan.
Bukan pada siapapun. Tentunya kau sudah haturkan ribuan terima kasih pada mereka yang baik hatinya.
Ucapkan terima kasih pada dirimu, pada hatimu.
Terima atas kekuatan di balik lemahmu.



Yakinlah kau tidak lemah, hanya perlu mengatur nafas sejenak.
Bangunlah, ini Minggu pagi. Berbahagialah.

Hati dan Buku Dalam Rak


Menata hati itu mengandung selera dan saya mengandaikannya sebagai aktivitas menata buku di rak. Kita bisa memilih untuk menumpuk buku-buku tersebut begitu saja atau benar-benar menyusunnya sesuai dengan judul dan jenisnya. Tidak ada yang salah, sebab semua berdasar selera, mood, dan karakter sifat masing-masing.
Kadangkala ketika kita menyusunnya, muncul niatan untuk membuka lagi lembaran-lembaran dari buku yang kita punya. Favorit-favorit dari chapter atau paragraf yang mungkin sudah penuh dengan warna ‘stabilo’ warna-warni. Kadangkala juga kita akan menyortir buku mana yang mendapat kesempatan lebih untuk ditaruh dalam barisan di rak tersebut.
Rak buku itu seperti sebuah pajangan memori, ada terlihat tapi tidak selalu kita jamah sering-sering. Ada buku yang mungkin kita paling favoritkan dan ditaruh di rak dengan posisi yang paling strategis untuk diingat letaknya. Mungkin kita akan lebih sering membuka si buku-buku favorit itu dibanding yang lain. Semua orang punya kesukaannya sendiri-sendiri bukan?
Lalu … Buku apa yang sedang kita baca (dan kita tulis) sekarang ?

Tuesday, August 28, 2012

Langit Tempat Berteduh Terindah


Kita tidak pernah tahu letak ujung semesta. Menepi di antara sepi dalam sepersekian paruh waktu dan membuat api di tengah udara yang mendingin. Ada bintang di atas kita, meneduhkan kerapuhan yang terkadang tidak kuasa untuk dikalahkan. Setidaknya mereka yang berkilauan menjadi penghiburan.
Senja sudah terlewat, sayang. Waktulah yang membawa kita pada malam penuh doa. Seolah telah terluka dalam hingga harus berpeluh air mata dan senyum belum terkembang seperti layar-layar perahu, hanya getir hanya gelisah. Adanya demikian kini …
Resah berjubel mengantri untuk dieksekusi. Eksekusi peleburan, biar tidak bersisa. Kita bermalam, habiskan sepanjang jam yang ada dalam gelap, membunuh satu per satu resah tadi. Biarkan tangis beradu dalam dingin berteman bara api kecil ini yang tersisa, saat ini.
Doa terakhir untuk malam dalam langit yang teduh. Esok kan datang, waktu baru dalam hari yang kita awali dalam pagi yang terang. Bersemburat biru dengan hiasan awan cantik. Angin akan menerbangkan layarmu, dan senyum kan jua terkembang. Kita berlayar dengan muatan kapal masa lalu, membawa setiap inchi perih dan gurat sendu. Kita tenggelamkan mereka di tengah samudera, tanpa sisa.
Segenggam ini yang kita punya, bahagia.
Rumah kita ada di sini, atapnya luas luar biasa. Tenanglah, kita akan baik-baik saja sebab kita tahu langit adalah tempat terindah untuk berteduh.

Wednesday, August 01, 2012

Agustus


Selalu ada yang istimewa di bulan Agustus. Begitulah yang kupahami sejak kecil. Agustus berarti perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Yang artinya lomba-lomba di komplek rumahku dan malam pentas seni. Aku selalu menyambutnya tersebut dengan kegirangan, dan memenangkan banyak perlombaan. Mulai dari lomba membaca teks proklamasi, sepeda gembira, dan makan kerupuk. Hal itu tak pernah lepas dari dorongan ayahku yang lebay-lebaynya mengalokasikan waktu seharian penuh untuk menghias sepedaku dan adikku dengan kertas krep beraneka warna.

Beranjak dewasa, lomba-lomba agustusan sudah tak lagi aku ikuti, Agustus menyepi. Aku dipaksa untuk memahami makna lain tentang hari kemerdekaan, barangkali tentang cerita perjuangan pemuda masa itu. Sejak itu aku mulai menulis.

Agustus tahun ini tentu tak sama, Ramadhan dan Idul Fitri akan turut menghiasi. Aku ingat betul saat kecil lebaran selalu berdekatan dengan natal di akhir tahun. Tanggal lebaran yang bergeser tiap tahun menjadikan kali ini Agustus yang dapat giliran. Tak jadi soal, kuucapkan selamat kepada Agustus atas keberkahan yang terlimpah baginya di tahun ini.

Lebaran juga selalu jadi yang kutunggu-tunggu dulu, karena mudiknya, kue-kue manis, baju baru, dan bersenang-senang dengan saudara. Kesenangan macam itu tergradasi tiap tahun, kurasa. Beberapa tahun belakangan lebaran jadi membosankan, terutama setelah nenekku tiada yang artinya acara kumpul keluarga jadi tereliminasi. Baju baru juga tidak lagi menciptakan kesenangan yang segitunya. Akupun mulai (harus) mencari sumber kebahagiaan baru untuk memaknai Idul Fitri. Sejak itu aku mulai belajar tentang konsep kembali fitrah dan sebagainya.

Ya, semakin dewasa semakin aku merasakan ilmu “penciptaan” kebahagiaan untuk diri sendiri haruslah dikuasai. Sejak aku tahu bahwa manisnya permen hanya begitu-begitu saja dan ternyata terlalu banyak mengkonsumsinya dapat berdampak buruk pada kesehatan gigi, aku menyadari bukan sebuah bendalah sumber dari kebahagiaan. Sama halnya, sejak ayahku mulai marah bila aku mendapat nilai jelek di sekolah dan ibuku dengan banyak tuntutannya, aku makin memahami, manusia lain pun tak akan pernah jadi sumber kebahagiaan utama.

Tetapi tidak bisa begitu saja dinafikkan. Bahwa kehadiran keluarga, sahabat, kekasih, kembang gula, baju baru, dan buku kesayangan, merupakan pelengkap hidup yang dapat membiarkan diriku dengan leluasa belajar menemukan kebahagiaan baru setiap waktu.

Saat aku melihat kalender sore ini, dan melihat tanggal menunjukkan 1 Agustus 2012, entah kenapa ada rasa haru dan syukur yang luar biasa besar. Agustus kuharap akan sama indahnya seperti saat aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Agustus kuharap menjadi sebuah pembebasan dari Juli kemarin yang cukup kelabu. Agustus kuharap akan terlengkapi dengan benda hidup dan benda mati kesayanganku. Agustus ini kuharap jadi waktu yang tepat untuk memperdalam kecakapanku dalam menyayangi hati dengan berusaha senantiasa bahagia.


Agustus ini aku sudah bukan lagi berstatus mahasiswa. Sebuah alasan besar mengapa seharusnya bahagia, setelah empat tahun bergulat dengan buku-buku super tebal, 55 mata kuliah, dan 75 halaman skripsi.

Thursday, July 26, 2012

Suatu Saat

Suatu saat,
kita akan berjalan-jalan ke India, sayang.
berpakaian sederhana, dengan kacamata hitam dan berkalung kamera.
berlari di antara pasar dan kuil-kuil, dimana tanganmu menggandengku erat.

Kita tidak pergi ke Taj Mahal.
kita mencari ketenangan di antara ashram, mungkin di Ladakh atau Agra. 
bermeditasi dalam sunyi selama satu atau dua minggu untuk kemudian berpindah lagi.
kemudian aku sibuk menertawakanmu saat mencicip asamnya yogurt di dalam saus canai, saat kita pelesir di Kolkata.

Kemudian,
dengan bis kaleng yang panas kita menyusur jalanan berpuluh jam untuk mencapai Kashmir.
dataran tinggi dengan pucuk-pucuk gunung yang memutih karena salju,
dan padang bunga tulip yang membuatku tak bisa berkata-kata saking indahnya.
kamu tidak menghadiahi aku sekuntum bunga. cukup kamu fotokan saja dan tunjukkan padaku.
“kita tidak mengambil apapun kecuali foto, kan?” katamu dengan senyum yang paling manis.

Di antara sungai-sungai gletser yang mengalir perlahan di tengah musim panas,
kita melompat berkecipak seperti anak kecil.
sepatu-sepatu kita sudah basah oleh air, tas kita kotor oleh debu gunung, keringat sudah mengering walau beberapa hari tidak mandi, rambutmu pun sudah kusut tertiup angin.
tetapi kita tetap yang paling bahagia hari itu.

Lalu mataku berbinar bahagia ketika tahu,
ternyata kamu tidak lupa kemana aku ingin pergi sejak dulu.
masih dengan sebuah bis kaleng yang panas, kita beranjak ke Nepal.
berpuluh jam pula, jauh, melelahkan.
tapi matamu tidak akan pernah beranjak dariku, memastikan bahwa aku tertidur dengan lelap di bahumu.

Yang selama ini kucari menunggu kita di sana.
kesesakan Kathmandu yang begitu candu,
lorong-lorong sempit di antara rumah bata berjendela ukir,
kuil-kuil yang ramai didatangi pendoa dan sesajen berwarna-warni yang berbau khas,
tari-tarian sepanjang sore dari anak-anak di Durbar Square,
atau kita, sekedar menyaksikan matahari terbenam dari balkon hotel sembari menyesap secangkir susu yak.

Lalu, apalagi yang lebih indah dari Tibet, sayang.
kita berdua tahu itu, dibalik keindahannya kita mafhum tentang konflik berkepanjangan yang belum juga selesai.

tapi hari-hari itu hanya milik kita berdua, sayang.
masih selalu kubayangkan Annapurna, Namche Bazaar, dan hari-hari melelahkan menyusuri punggungan Everest,
bersamamu.

Apakah kau, yang disana, juga mungkin memikirkan petualangan yang sama?

Monday, July 23, 2012

Kau


Kau dengarkan aibku berkali-kali, lalu sebentar saja kau tersenyum, selebihnya kau marahi aku, hingga sumpah aku benar-benar benci. kau bahkan tak peduli.
"sebenarnya dia tidak mau ada yang lain tahu, jangan beritahu ke siapapun ya...". selalu.. selalu kau malah menyuruhku diam selepas aku ucap kalimat itu, dan dengan muka datarmu kau alihkan perbincangan. Kau hargai aku dengan menutup telingamu. aku benci waktu itu.

Surakarta. 07.2012
sekarang aku cinta caramu membuatku benci waktu itu.

Dua Rasa Sepenuh Dunia


leiden.glücklich


Saat kau tertimpa musibah itu satu,
saat kau mengalah atasnya maka jadi dua.
Bahagia dan derita menjadi dua frasa yang silih berganti hadir dalam setiap kisah manusia. Ia pilihan rasa yang datang dan pergi lalu datang lagi.
Tak terjawab apa sebenarnya ia dipilih atau dijatahkan maha pemberi rasa.

Cara dia datang dan pergi adalah rahasia.
ala skenario khas sang pencipta, latarnya sering tak terduga.

Dari mereka berdua telah lahir berjuta kisah aneka tema.
Dari berjuta kisah yang berbeda lahirkan lagi mereka yang sama.
Bahagia-derita.

Ia bisa buat orang tertawa terbahak.
Tapi juga bisa membantingnya hingga menangis terisak.


Ini dua rasa bukan biasa. Dia guru keadilan.
Ia tak kenal kelas sosial . Ia tak seleksi empunya dari harta ataupun bentuk rupa.
Ia datang saja, kapan saja ke siapa saja.
Tak terjawab memang dia dipilih atau dijatahkan sang maha pemberi rasa.

Darinya tumbuh asa dan putus asa.
Dia bukan makanan yang berikan gizi berbentuk uraian glukosa.
Tapi tanpa makan yang memilikinya seakan kuat berlari sepenuh dunia.
Karena dia lahirkan asa.

Dia bukan parasit pohon yang menghisap zat tumbuh inangnya.
Tapi dia buat lemah tak berdaya yang sedang bersamanya.
Karena dia lahirkan putus asa.

Tak terjawab memang dia dipilih atau dijatahkan sang maha pemberi rasa.
Ia tak terlihat. Tapi ia bisa membuat terlihat berbeda.
Pastinya dalam rupa yang sama. Tapi terlihat berbeda.


buat berharga selagi kau masih bisa berusaha.
hari ini sejatinya juga untuk 'nanti'.
Allah doesn’t promise that life would be easy, but Allah promises to walk with you in every step :).

kamar kos. 23.07.12
lima menit setelah tarawih

Dimana ?



Pernah tidak kamu bertanya dalam hati, "mana diriku"?
Atau lebih sederhananya pernah tidak sekelebat hadir pikrian di benak tentang untuk apa sebenarnya kita hidup? tulisan ini bermula dari sapaan kawan lama yang sudah mulai bekerja di salah satu bank swasta. Dia bilang “Kak, capek juga ternyata lama-lama begini, keliatannya saja keren dan mertua bangga tapi hati ane kosong kak, piye ki Kak?”
Entahlah maksud dari yang disampaikannya itu sama dengan ribuan pertanyaan yang sering diam-diam masuk ditengah lamunanku. Betapa banyak manusia zaman kini yang lebih menuhankan materi, lebih buruknya lagi dia gunakan patokan ini menilai sesamanya. Seperti lupa kalau hidup berujung mati. Bukan dalam maksud menggurui karena memang tidak pantas diri ini. Tapi coba tanyakan ke hati sendiri-sendiri.

Aku sering sadar merasa berpura-pura dalam hidup. Menampilkan yang tidak sebenarnya dan menikmati pujian yang tentu tidak sepantasnya. Tapi apa mau dikata, manusiaku sering sekali memahfumkannya, bahkan menikmatinya lalu lupa dan mengulanginya.

Dunia hebat sekali menurutku. Dunia dalam artian segenap godaan yang disajikannya. Lihat betapa banyak manusia yang ditipunya, kalaupun terlalu kasar barangkali kata disilaukan rayuan (dunia) tidak berlebihan, aku salah satu diantara yang menikmati kebutaanya.
Sepenuhnya aku dikuasainya. Mulai dari minyak wangi yang bila lupa memakainya ada rasa rusak di yakin diri berjalan di keramaian kawan-kawan kampus. Merk  baju dan celana yang khawatir diketahui kalau Cuma KW3. Belum lagi nanti.. tentang dimana bekerja, Jakarta? Jogja? jadi apa? Gaji sebulan berapa? Tongkrongannya apa? Apartement mana? Liburan kemana? Banyak lagi dan tentu masing-masing kita punya cerita yang berbeda.
Tentu tak salah kita memperelok tampilan diri, bukti syukur atas karunia jasad dari Tuhan, toh Tuhan juga sebutkan “innallaha jamil wayubbul jamil” yang kurang lebih maknanya Tuhan itu indah dan mencintai keindahan. Dalam pijakan ini tak ada yang salah mendandani diri, rumah dan semua perangkat keduniaan.
Tapi, apakah keberpura-puraan juga dibenarkan..?
Ketidak adilan juga untuk terus dimaklumkan Tuhan..? 

Apa adil saat kita sibuk memperelok tampak dunia tapi kikir untuk urusan bertuhan? Tentu salah kalau kita lebih takut masuk kelas dengan baju buruk ketimbang berjumpa Tuhan hanya dengan baju tidur. Tentu tak benar bila kita sebegitu sibuk mempersiapkan diri untuk perhelatan teman dan seadanya saja menghadiri perhelatan Tuhan?

Dimana kita sebarnya. Bukankah digenggaman Tuhan. Seperti kalimat kun fayakun yang sudah sangat akrab ditelinga kita, bahwa Tuhan maha kuasa atas kehendaknya. Kita manusia, rumahnya lupa. Tapi kitapun manusia punya tugas untuk terus mencari dan mengingat. 

Sering sekali aku lari dari nasehat kebaikan. Jarang aku ingat lama dan tekun menjalankan agama. Sering melintas tanya tentang “dimana aku?” sesering itu pula aku melupakannya. Keberpura-puraan sepertinya sudah memenangkanku.

Malam ini aku tuliskan pertanyaan yang sering melintas itu setelah membaca pesan pendekmu, semoga aku ingat untuk tidak melupakannya lagi. Aku tetap manusia dan Engkau (Allah) tetap Tuhanku. Terima kasih kawan, sedihmu mengingatkanku. Lekas sembuh.

malam 4 Ramadhan 1433H
pesanmu belum kubalas