Tuesday, September 25, 2012

Padhang Bulan


cahaya kasih sayang, menaburi malam
hidayah dan rembulan menghadirkan Tuhan
alam raya, cakrawala
pasrah dan sembahyang
yang palsu ditanggalkan
yang sejati datang
yang dusta dikuatkan topeng-topeng hilang
jiwa sujud, hati tunduk padaMu Tuhanku

lihatlah, lihatlah mentari baru
yang terbit dari dalam tekadmu
sesudah senja, di ujung duka
nikmati hilang mengalirnya cahaya
lirik karya Franky Sahilatua, musikalikasi Emha Ainun Najib, dan sekarang diyanyikan oleh Anda
Lagu yang memanggil hati, untuk tetap teduh dalam kuasaNya. Saya terhenyak sepanjang lagu.

Tuesday, September 11, 2012

Jauh


Panasnya Solo mengingatkan saya pada neraka. Padahal tidak pernah kesana, aneh sekali. Beberapa kali saya kurang menyukai siang yang teriknya berlebihan. Membakar kulit adalah risiko ke sekian yang saya pikirkan, tetapi kemampuan matahari untuk mendekap mata hingga mengriyip sungguh tidak membuat nyaman.

Apa yang salah dengan siang, apa yang salah dengan matahari. Siang sering mengajarkan tentang kenikmatan meneguk segelas jus segar. Siang juga membiarkan saya merasakan teduhnya rumah.

Saat balita saya sering sekali menangis pada pukul 19.00. Sedih sekali mengetahui bahwa hari beranjak malam. Yang artinya penghuni rumah akan segera terlelap, yang artinya lagi dunia saya akan menjelma sepi. Hal itu terjadi karena kebiasaan saya tetap terjaga di malam hari, dan sedihnya hantu selalu dicitrakan akan keluar tengah malam.

Malam sama tak bersalahnya. Setelah dewasa saya merasakan kekuatan malam sebagai ruang kontemplasi paling nyaman. Malam membuat lampu kota terlihat ratusan kali lebih cantik. Hampir selalu. Sepertiga malam jadi tempat paling sejuk untuk para pencari Tuhan.

Malam dan siang, panas dan dingin, tinggi dan rendah, besar dan kecil. Tak ada yang salah dengan salah satu dari setiap padanan kata sifat tersebut. Masing-masing darinya adalah dua mata koin yang mesti jadi pilihan. Kadang kita juga tak punya pilihan, lantas buat apa risau. Menerima saja dan kemudian menikmati selalu jadi solusi paling solutif.

Dari kesemuanya itu, ada sepasang kata sifat yang buat saya mutlak jadi pembeda hidup hari ini. Jauh dan dekat.


Jauh adalah saat saya harus pergi merantau selama masa perkuliahan yang sudah 4 taun ini terlalui (Alhamdulillah) dan butuh usaha yang luar biasa untuk menemui orang tua tiap minggunya. Jauh adalah saat selama satu tahun kekasih harus menunggu waktu yang tepat untuk pulang ke Solo bertemu keluarga dan kekasihnya. Jauh adalah saat para sahabat pergi ke pantai bersama dan merayakan ulang tahun, tetapi saya hanya bisa "ikutan" dengan melihat gambarnya. Jauh adalah saat seorang ibu menangis karena anaknya harus kembali ke perantauan setelah mudik beberapa hari. Jauh butuh bermenit-menit setiap hari untuk menekan sesak di hati agar logika bisa kembali sadar untuk melanjutkan perjuangan.

Silahkan temukan semua pembenaran bahwa jauh itu baik, tetapi kita butuh jujur bahwa jauh hampir selalu tak menyenangkan.

Monday, September 10, 2012

Klise


Klise adalah ucapan selamat ulang tahun semoga panjang umur.
Klise adalah ucapan semangat ya, kamu pasti bisa!
Klise adalah ucapan all iz well.
Klise adalah ucapan selamat tidur, semoga mimpi indah.

Begitulah kiranya banyak orang mengatakan dengan mudah, ah klise. Mungkin mereka belum tahu bagaimana rasanya ingin menyayangi seseorang tapi tidak lagi menemukan kata-kata baru. Atau mungkin mereka belum diizinkan untuk tahu bahwa saat jarak terbentang, seekspresif apapun seseorang kepada yang sedang dirindukan, pesannya akan sulit tersampaikan tanpa beberapa kalimat seru.

Klise adalah wajar, karena mungkin sebuah kata tidak punya sinonim sebanyak hari yang dilalui manusia.

Hidup pun klise, selalu diawali dengan bangun pagi dan diakhiri dengan mengantuk lalu pergi tidur.

Selamat siang, semoga harimu menyenangkan!

Tergugah oleh kabar haru sahabat yang sudah disetujui skripsinya (Yohana & Niken) dan pangeran yang sedang menjalani pekan penuh adaptasi, 10 September 2012

Hibernasi


Kebiasaan sangat buruk sudah menggelayuti saya –setidaknya setahunan ini- membiarkan laptop dalam hibernate mode. Bukannya sekalian melakukan shut down. Alasan utama kepraktisan selalu jadi pemenang dalam setiap pergulatan hati -yang khawatir perangkatnya akan rusak-. Salahkan skripsi dan kroninya. Membuat saya jadi tak rela membiarkan inspirasi “ilmiah” pergi karena menanti loading saat menyalakan laptop.

Hampir menginjak empat hari, pasca jadi sarjana, akhirnya saya ampuni laptop itu. Mati beberapa saat. Benar-benar mati. Pasti akan saya nyalakan lagi sih, tapi belum tahu kapan karena komputer rumah barangkali jauh lebih menarik.


Mungkin sudah sadar lama, tetapi baru mencoba mengakui bahwa nggak cuma laptop yang telah berhibernasi sering-sering dan lama-lama. Pemiliknya juga, saya. Sudah lama sekali hati terasa amat rapuh dan digerogoti melankolia kamar tertutup. Melankolia kamar tertutup adalah perasaan sedih berlebihan yang disebabkan berpikir sendiri berlebihan; berencana, mengkonsepkan, dan menyimpulkan sendiri secara keterlaluan. Minim aksi. Setidaknya itu definisi bikinan saya sendiri, karena daftar istilah psikologi yang masih rendahan.

Sudah saatnya menyala kembali. Bukan sleep, bukan hibernate. Sudah saatnya membuka pintu kamar, menyadari kehangatan matahari, deru mobil di jalan, semilir angin sore, romantisme malam, kehangatan keluarga, keceriaan sahabat, dan panggilanTuhan dari luar pagar. Di kepala –dari dulu- sudah dapat tercium aroma bukit tinggi yang mesti dan (harusnya) bisa didaki. Tak hanya itu, peta sudah dibuat di tangan. Entah sejak kapan. Thinkconceiveplan. Tapi apalah artinya tanpa aksi. Sudah terlalu lama saya jadi manusia tanpa aksi. Atau melakukan aksi yang justru di luar rencana, atau melakukan aksi sesuai rencana tapi tidak terlalu bersungguh-sungguh, atau berkonsep tanpa henti, atau apalah yang membuat darah di tubuh terasa tidak benar-benar mengalir.

Sebenarnya saya tidak seberuntung laptop, karena saya tidak mungkin menyala lagi bila sampai di-shut down. Masih bagus berkutat di hibernate mode

Monday, September 03, 2012

Rahasia Perempuan


Perempuan itu gampang naksir dengan hal sepele.
Tidak perlu kekuatan super atau jampi untuk menarik perhatian mereka. Beberapa perempuan bisa langsung jatuh hati dengan kejadian yang seringkali dianggap remeh:

Seorang lelaki yang membawa damai dg berkata:
” Tenang, aku yg handle bagian sini. Kamu konsen sama bagianmu aja. “ atau
” Tenang, kan kita punya Tuhan. “
Seorang lelaki yang mengumandangkan adzan dengan syahdu.
Seorang imam yang melafalkan Al Fatihah dengan fasih.
Seorang lelaki dengan humor yang ga garing.
Seorang lelaki yang memaklumi sisi lemah perempuan, menunggui mereka menangis sesenggukan tanpa menginterupsi.

Perempuan harus mengumpulkan keberanian untuk berdandan.
Seorang perempuan bisa menghabiskan waktu berjam-jam (bahkan berhari-hari) untuk memutuskan apakah dia akan merubah penampilannya yang konvensional menjadi lebih dinamis. Mereka akan menghabiskan waktu berpatut di cermin, ditemani bermacam baju yg sudah berserakan di lantai. Bingung. Jika perempuan dandan, itu tandanya mood mereka sedang baik. Jangan merusaknya dengan berkata ” Eh, kamu dandan ya? Wuuush… “, terutama untuk para lelaki, karena kalimat itu akan membuat mereka kecewa dan hilang keberanian untuk berdandan lagi. Jika kalimat itu datang dr sesama perempuan, efeknya akan berbeda. Sesama perempuan justru bisa saling koreksi, saling memberi tips and tricks, dan berkata ” Cantik lho kamu hari ini. “

Perempuan sangat pintar berkamuflase.
Jika sedang jatuh cinta, perempuan bisa menyembunyikannya dengan apik. Tampil kalem di depan orang yg mereka taksir, padahal hatinya meletup-letup. Berusaha cool saat lelaki-berpredikat-suami-idaman menyapa di lorong kampus, padahal hatinya lonjak-lonjak kegirangan.

Perempuan itu masih konvensional.
Menunggu ditemukan, tarik ulur, sok jual setengah mahal. Itulah yang mereka lakukan dalam fase pencarian jodoh. Tentu mereka juga do something ( memberi sinyal rumit, senyum semenawan mungkin, dan memberikan perhatian yang tidak mereka bagi ke semua lelaki), tapi pada akhirnya mereka yang akan tetap menunggu, dengan sabar. Menunggu jodoh yang masih tersesat entah dimana, sembari berdoa: ” Semoga yang terbaik menurut saya, juga terbaik menurut Tuhan. “

Perempuan itu selalu jujur pada sahabat-sahabatnya.
Pertemuan para perempuan akan menjadi momen yang emosional. Mereka akan bertutur dengan jujur, dari kehidupan cinta, pencapaian, dan yang tidak boleh ketinggalan: gosip. Mereka akan saling tahu siapa naksir siapa, siapa mengidolakan apa, bahkan siapa benci siapa. Forum perempuan akan dimulai dengan mata yang mengerjap penasaran,cerita yang mengalir bergantian, dan diakhiri dengan tawa cadas (yg seringkali menertawakan diri sendiri). Sungguh kaya, mereka bahagia.

Tampan bukanlah segalanya.
Bagi perempuan, tampilan fisik seringkali tidak menjadi prioritas dalam kriteria jodoh. Mereka sangat mencari faktor ‘nyaman’ saat menjalin sebuah hubungan. Nyaman di sini beraneka macam indikatornya. Misalnya: nyambung obrolannya, nyambung guyonannya, merasa aman dan diayomi, dan masih banyak lagi. Intinya, ketika perempuan merasa klik dengan seseorang, maka dia tidak sungkan memberikan sinyal-sinyal yang harus bisa dipahami oleh lelaki dengan baik. Seorang teman pernah berkata: “Jodoh yang sholeh itu nilainya 1. Kalo mapan, pintar, tp ga sholeh nilainya 0. Kalo sholeh, mapan, pintar, nilainya 100. Tapi jangan kebanyakan juga 0-nya. Susah dicari.” Maka perempuan akan jatuh cinta pada lelaki bernilai 1000: sholeh, nyaman, mapan, dan pintar. Syukur-syukur ganteng, hingga nilainya jadi 10.000. :)
*catatan khusus: kriteria ‘mapan’ di sini bukanlah sisi matre dari perempuan. Mereka kaum yg realisitis. Setahu saya, kita tidak bisa mengandalkan cinta untuk kehidupan yang lebih serius nanti. Istilah bekennya: “Mau makan cinta?”. Tapi perempuan juga akan dengan senang hati berusaha bersama untuk menjadi mapan. Beberapa dari mereka justru sangat bersemangat untuk bekerja. Jadi, jangan syedih ya :)

Perempuan sangat senang dibilang cantik.
Oke, yang ini bukan rahasia.

P.S:
Yang saya tuliskan hanyalah beberapa hasil pengamatan yang saya lakukan belakangan ini. Terimakasih untuk semua perempuan yang secara tidak sadar telah membantu. Tentu saja tidak semua perempuan memiliki rahasia yang sama. Masih banyak sisi perempuan yang tidak terduga, mengejutkan, dan misterius. Kau yang harus menemukannya sendiri. Tanya saja mereka.

Peluk


Peluk kaya akan emosi: bahagia, haru, hampa, kosong.

Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, menyambut buncah tawa dan wajah yang sumringah. Pelukan bahagia akan membuat dua orang menghentakkan pundaknya, diikuti dengan gerak kaki berirama, ke kiri, ke kanan. Salah satunya akan berbisik dalam senyum, yang lain akan merapatkan dekapnya. Momen itu akan ditutup dengan kalimat syukur: Alhamdulillah yang menguar di udara dan mengembang dalam hati.

Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, tanpa kata-kata. Dia ajaib, karena bisa mengubah seorang yang awalnya saya baik-baik saja menjadi seorang yang melankolis. Saya baik-baik saja akan menjadi saya tidak baik-baik saja, saya sedang bersedih, dan saya memang butuh pelukan. Peluk akan membawa kejujuran dalam haru. Dia akan melunakkan topeng dan memaklumi lemahnya manusia.

Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, walau kadang beriring dengan buliran air mata. Peluk membawa kehidupan bagi hampa. Menguatkan, seperti dedaunan yang melindungi rantingnya. Kali ini doa-doa yang terurai, menemani nyawa yang kembali terkumpul. Peluk mengembalikan semangat. Semangat untuk memahami takdir, semangat untuk hidup.

Namun ada kalanya hangat peluk sudah tidak tertangkap indra. Rasanya sama persis dengan udara yang memberi ruang di antara dua tubuh: kosong. Mungkin saat itu peluk butuh jeda. Mungkin saat itu peluk butuh pengertian. Jeda untuk berbenah, dan pengertian untuk menunggunya kembali, atau, merelakannya pergi. 

SENDU


Sendu. Kadang rasa itu mengembun tebal di rongga hati. Menyisakan dingin yang menyesap perlahan, meretas hangat. Sendu memang menyebalkan. Dia handal memainkan emosi hingga hujan turun di sudut mata, mengaburkan pandang.
Namun, sendu tidak selalu suka dituduh sebagai pengacau.
” Bagaimana kamu bisa merasakan bahagia jika kamu tidak pernah bersapa denganku? Nanti semua emosi kau kira sama. “

Mungkin, sinar matahari baru akan muncul ketika hujan telah reda. Mungkin, kita membutuhkan sendu untuk lebih mengenal bahagia.

Sunday, September 02, 2012

Terima Kasih


Hey, kamu harus bangun. Ini Minggu pagi. Jangan bergelayutan di kasurmu kelamaan.
Aku tahu, aku tahu. Semuanya.
Kesedihanmu, sakitmu, dan seberapa kuat kamu ingin berjuang. Tak sekedar bangkit.
Sudah kamu jalani medan berkerikil yang tak mudah, berlari mengejar keretamu di rel-rel besi karatan.
Tak lebih dari cukup, tapi bukan juga terlalu kurang.
Terima kasih, itu saja yang perlu kau katakan.
Bukan pada siapapun. Tentunya kau sudah haturkan ribuan terima kasih pada mereka yang baik hatinya.
Ucapkan terima kasih pada dirimu, pada hatimu.
Terima atas kekuatan di balik lemahmu.



Yakinlah kau tidak lemah, hanya perlu mengatur nafas sejenak.
Bangunlah, ini Minggu pagi. Berbahagialah.

Hati dan Buku Dalam Rak


Menata hati itu mengandung selera dan saya mengandaikannya sebagai aktivitas menata buku di rak. Kita bisa memilih untuk menumpuk buku-buku tersebut begitu saja atau benar-benar menyusunnya sesuai dengan judul dan jenisnya. Tidak ada yang salah, sebab semua berdasar selera, mood, dan karakter sifat masing-masing.
Kadangkala ketika kita menyusunnya, muncul niatan untuk membuka lagi lembaran-lembaran dari buku yang kita punya. Favorit-favorit dari chapter atau paragraf yang mungkin sudah penuh dengan warna ‘stabilo’ warna-warni. Kadangkala juga kita akan menyortir buku mana yang mendapat kesempatan lebih untuk ditaruh dalam barisan di rak tersebut.
Rak buku itu seperti sebuah pajangan memori, ada terlihat tapi tidak selalu kita jamah sering-sering. Ada buku yang mungkin kita paling favoritkan dan ditaruh di rak dengan posisi yang paling strategis untuk diingat letaknya. Mungkin kita akan lebih sering membuka si buku-buku favorit itu dibanding yang lain. Semua orang punya kesukaannya sendiri-sendiri bukan?
Lalu … Buku apa yang sedang kita baca (dan kita tulis) sekarang ?