Saturday, June 01, 2013

23


23 tahun itu sederhana. Sesederhana bagun dengan berkat yg sama.  Sesederhana kesehatan yg nyata. Sesederhana tawa orang tua.

23 tahun itu sederhana. Sesederhana harapan tulus yg smp ke dada. Sesederhana terik senja. Sesederhana secangkir teh Tong Ji bersama mama.

Mungkin sederhana. Tapi ketika mensyukurinya, Tuhan dan kasih karunia, tidak sederhana kelihatannya. Karena manusia mendapatkan dgn cuma2.

Mensyukuri hidup dan pertambahan usia. 23 tahun yang sederhana karena kasih karunia Tuhan begitu nyata. Terima kasih.

Thursday, May 23, 2013

Beacon Of Light

Dunia ini adalah dunia yang aneh. Dunia yang hijau tapi lucu. Dunia yang kotor tapi indah. Mungkin karena itulah saya telah jatuh cinta dengan kehidupan. Dan saya akan mengisinya, membuat mimpi-mimpi yang indah dan membius diri saya dalam segala-galanya. Semua dengan kesadaran. Setelah itu hati rasanya menjadi lega.”  - Soe Hok Gie

Akhir-akhir ini saya berpikir tentang banyak hal, sampai kadang saya merasa bingung apa yang sebenarnya yang saya pikirkan. Seperti berawal tetapi tidak ada ujung, demikian, demikian, dan demikian, penuh lalu yang tidak berujung titik. Di tengah-tengah itu muncul pertanyaan, sudah sampai mana diri saya saat ini berada? Saya meyakini hidup adalah proses yang penuh dengan titik transit. Titik transit yang seharusnya sebagai tanda saya berproses untuk mencapai kualitas yang lebih baik. 

***

Berjuang dalam definisi sederhana, artinya tidak berhenti. Kalimat yang menjadi headline di kepala semalaman. Ketidakpuasan menandakan ada yang salah dengan cara saya berkomunikasi denganNya, ya, sepertinya untuk hal ini saya harus mengakui masih sangat transaksional denganNya. Padahal banyak hal yang patut disyukuri, dan kekerdilan hati untuk beriman dengan kualitas  menjadi pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Saya takut tersesat. 

Saya terinspirasi pada Magelhaens. Sejarah telah mencatatnya sebagai pelaut Eropa pertama yang sampai di Benua Asia dan patutlah ia berbangga sebagai seorang pelaut yang diperhitungkan karena telah menemukan Pasifik,  samudera terluas di dunia. Ketika ilmuwan secara presisi memperhitungkan jarak bumi ke bulan, ia justru melakukan ‘perjudian’ dengan alam untuk menemukan kepulauan rempah-rempah . Actions speak louder than words. Hal yang saya pikir layak dilakukan untuk sebuah mimpi yang ia ingin kejar. Penasaran itu bisa membunuh kalau hanya ditanggapi dengan diam. 

Saya yakin Magelhaens berjuang, yang didapati dalam perjalanannya bukan pulau dengan dengan cahaya-cahaya suar, tapi gelombang tinggi, badai, dan ancaman lain. Ia mencari peradaban dari arah matahari terbit, mencari daratan penghasil rempah yang menjadi kebutuhan kaumnya. 

Pada sisi ini, sebuah motivasi muncul. Ketidakpuasan bukanlah hal yang harus dituruti dengan kemarahan. Saya diingatkan lagi hari ini, ketika saya bangun ada rasa yang salah ketika saya lupa mengucap terimakasih kepadaNya. Durasi transit ini akan semakin lama ketika saya tidak cepat belajar, tidak cepat berlari dan mengejar, dan tidak bergegas menentukan arah. Akan ada gelombang pasang, akan ada badai yang tidak tahu kapan datangnya, akan ada bahaya lain yang harus dilewati untuk mencapai titik transit selanjutnya. Pilihannya ada di saya sendiri, diam atau berjuang.

***

                   - a sailor who sailed the ocean with Beacon of Light -

Friday, May 10, 2013

Selamat Datang, Peka Untuk Syukur


Kalimat-kalimat positif yang diujar menjadi motivasi. Sebaliknya ketika kutub kalimat itu menjadi negatif, yang ada hanya keluhan dan kadang caci  maki soal kehidupan. Banyak hal menuntut untuk didefinisikan dan dimengerti dalam keterbatasan waktu. Apa yang tidak dimengerti seringkali bertransformasi menjadi output keluhan. Kemudian, kita sering lupa bahwa ada kata kunci bersyukur dalam area bernama kehidupan. 
Semua tergantung pada masing-masing hati untuk menjaga konektivitas dengan Sang Pencipta. Bagaimana Tuhan berbicara, fokus peka yang akan menjawabnya. Kadang tidak perlu sunyi untuk dapat menemukan jawaban tersebut, tapi keinginan untuk melihat sekitar, melihat bahwa kondisi yang kita nikmati adalah yang terbaik yang bisa kita nikmati sekarang.
Ada sesal, ada harapan. Apa yang tidak bisa kita rubah adalah masa lalu, namun usaha untuk memperbaikinya terbuka dalam sejuta kesempatan. Sebaik titik-titik peka yang muncul untuk melihat, merasakan, dan melakukan perbaikan terbaik yang bisa kita lakukan, bersyukurlah dan rasakan tiap detiknya Hani!

Monday, March 11, 2013

Lembar Persembahan


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjD6yHVYHPBC3O1jvDfpNUOb4pA_AeljcdaTMRGZvHbFsFth_ek8w6N2cXJcpmJfg0JTZYhLy8HmFLHsYvQmLlxhQc_comTTQ94zN13m45wp8sKJBxs3LT5rrC9GzjhRfKvLRh1V21vDozp/s1600/121.gif

Sembah sujud kehadiratMu Allah, telah izinkan aku menjadi manusia dari tanah liat atas niatmu. Kuiringi dengan doa dan harap semoga tiada kesia-siaan yang aku persembahkan membalas nikmatmu yang tak terhingga. Teriring salawat dan salam untuk nabi Allah junjungan Muhammad SAW.

Untuk semesta dan alam bumi Allah. Sungguh padamu tanah dengan bebatuan, pohon dan dedaunan, laut, langit dan semua materi yang telah dicipta dinata langit dan bumi menjadi guruku dalam melangkah, berpikir merasakan kegundahan dan berniat menemukan rahasia-demi rahasianya. Doaku untuk kita terus tetap bersahabat untuk nanti bertemu Tuhan bersama-sama dalam damai.

Untuk manusia. Semua pendidik yang sebangsa, Ibu yang mengandungku sangat lama kemudian dalam ketidak tahuan akan masa depan membesarkanku bersama Bapak. Sujudku beriring peluk cinta untukmu Mama di kampung dan Papa di Surga. Untuk empat saudaraku yang tersebar di Nusantara tercinta, terima kasih untuk cinta yang tak putus-putus. Kelak kita bangun bumi manusia ini bersama menjadi lebih baik. Untuk semua guru manusia yang aku pernah jumpa, karib-kerabat yang mendoa, semua sahabat yang aku yakin betul di diri ini menempel bagian dari kalian yang akan terus aku bawa hingga mati. Semoga kelak kita berkumpul lagi bersama di hidup yang kedua.

Untuk kekasih hati, manusia yang mengenalkanku banyak perkara, lawat berdebat sahabat bercengkarama. Dalam doaku kini terus terlantun namamu semoga bisa menjalin keluarga dan saat itu kita akan terus belajar, belajar dan belajar menguak rahasia-rahasia duniaNya. Kelak atas izin Tuhan kita buat bangga keluarga, bangsa dan agama. Amin. Rahmia.

Untuk tanah airku. Aku percaya bahwa Tuhan tak pernah sia-sia menciptaka manusia di berbeda-beda belahan dunia dan aku di Indonesia. Untuk Minomartani dan Yogyakarta aku banyak berhutang padamu semoga kelak aku dapat menebusnya dan mimpiku Negara ini menjadi kebanggaan anak-anak bangsanya tanpa paksaan menjadi kenyataan.


Terima kasih untuk resah, karenamu aku berpikir.
Surabaya, 11.03.2013

Hymne Terima Kasih UNS

Ujian Tuhan


Tuhan mampu dengan berbagai caranya sendiri memberikan pelajaran kepada ciptaanNya. Seberapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk menguji kemampuan manusia, tidak penting. Tahun, hari, jam, menit, bahkan sepersekian detik akan memberikan pelajaran, jika saja kita dapat duduk dan memperhatikan.
Ingat kah akan suasana belajar? Ruang kelas dan kursi berjejer rapi dengan dinding-dinding yang dipenuhi gambar-gambar dan kata-kata motivasi. Seringkali kita tidak peduli dengan kelas dan isinya, tak jarang kita juga tidak peduli dengan guru yang sedang mengajar. Pikiran ini terlalu fokus pada hal lain di luar pelajaran, entah merencanakan pertemuan dengan teman, membayangkan akan kuliah apa nantinya, atau sekedar mencorat-coret buku dengan bosan. Jika mendapati kesulitan saat ujian, kita berteriak, memaki guru, meratapi nasib. Persis seperti murid-murid di sekolah terkadang kita memandang hidup ini. Lupa akan inti pelajaran yang diberi. Hanya mengeluh, menuntut jika ujian Tuhan terlalu sulit, rumit.
“Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambaNya”, itu bukti cinta dari Tuhan yang tak terbantahkan. Tidak ada ujian yang kita tak sanggup lewati. Karena Tuhan, sebagai guru, tahu dan telah mengukur kemampuan kita. Maka jika Tuhan yakin, mengapa kita lunglai, berteriak, dan marah saat masa ujian tiba? Padahal Tuhan menguji, untuk meninggikan derajat hambaNya.
Duduk dan perhatikan. Tuhan menyematkan tanda cintaNya dimana-mana.

Surabaya, 08.03.2013

Selamat Hari Perempuan Sedunia

7 Maret 2013- Sejarah mencatat, pergerakan perempuan di dunia dimulai ketika masa ekspansi industri pada tahun 1900an, tahun dimana juga terjadi ledakan penduduk dan perkembangan ideologi yang radikal. Tepat di tahun 1908, kaum perempuan memulai melawan ketimpangan yang terjadi, bersuara untuk perubahan. Lima belas ribu perempuan berorasi dan menggelar long march di New York City, meminta jam pengurangan jam kerja, hak suara, dan upah yang layak. Momentum itu berkembang dan tiap negara pun punya sejarah masing-masing tentang pergerakan perempuan. 
Di antara milyaran manusia di dunia, kaum feminim mendapat keistimewaannya. Istimewa karena pada pendahulu telah membuka jalan agar kaum feminim bisa berkarya dan mendapatkan haknya secara manusiawi. Dalam sisi ini, perubahan terjadi karena ada keberanian. Tidakkah sejarah perempuan di Indonesia telah berevolusi, kehadiran sosok-sosok inspiratif seperti R.A Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, mereka adalah sosok yang hadir ketika Indonesia masih terbelenggu penjajahan. Kita bukan lagi mengalami masa memanggul bambu runcing ataupun terpasung di rumah ketika para lelaki mendapatkan pendidikan sekolah. Kita perempuan yang hidup di zaman yang terus bergelut dengan perubahan. 
Kita beragam dalam pandangan, kita hadir ketika dunia memberikan kesempatan dan tantangan lain. Pandai menjadi ibu rumah tangga itu mutlak, sebab merupakan kodrat yang memberikan kebahagiaan lahir batin. Di sisi lain, ada jati diri perempuan yang perlu muncul dan mendapat ruang, dan hal tersebut ada pada pilihan masing-masing. Pada hati yang meyakini dirinya ingin menjadi apa, pada pikiran yang terus ingin diasah untuk menajamkan pemahaman tentang dunia dan semestanya. 
Tidak mudah menjalankan peran, pada waktu yang sudah berjalan kita belajar, pada hari ini dan nanti kita akan tahu dan mengalami menjadi perempuan yang sebenarnya kita inginkan. 
Selamat Hari Perempuan Sedunia, semoga kita selalu menjadi diri sendiri. 

sumber gambar : google.com

Wednesday, March 06, 2013

cinta dan ketulusan


Karena kau tak lihat, terkadang malaikat
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya …

Lirik lagu dari Dewi ‘Dee’ Lestari yang di-recycle kembali oleh Glenn Fredly sebagai soundtrack film Rectoverso ini benar-benar juara. Juara mengambil alih telinga dan perhatian.
Bahwa dari lagu itu teringat akan suatu hal, soal ketulusan mencintai, soal ketulusan menjaga kesederhanaan perasaan, jujur dan jelas tertuju. Ketulusan yang tidak mungkin bisa disamakan oleh apapun, sayangnya seringkali kita membandingkan dengan hal yang duniawi. Bahwa ketulusan untuk memberikan perasaan itu naif jika tidak bersinergi dengan ekspektasi, tapi jika kembali kepada ketulusan, sanggupkah kita berbohong dari apa yang kita usahakan untuk menjaganya, ia yang tumbuh ketika nircahaya.

Tuesday, January 29, 2013

Kangen


Kangen yang lahir bukan dari tragedi, bukan pula drama, komedi, atau cerita orang kesepian. Kangen ini lahir dari sebulan yang bergulir di dalam roda waktu sebuah kota. Kota itu bernama Surabaya. Masa transisi hati dan suasana dari kota yang ramah senyum, ke kota pahlawan yang sedikit arogan. Kuatkan keyakinan untuk selalu berpegang pada teguh kemauan, untuk berbuat yang lebih baik, Hani.

Kembali ke atmosfer kangen, tiap tetes tatapan kota ini adalah objek-objek baru pengalaman hidup. Adakah di tiap ruangnya berisi makna? Aku pikir iya, tapi tergantung sikap dan pemahaman untuk memaknainya. Banyak teori hidup yang sepertinya butuh penyesuaian, tentunya dalam koridor jati diri sendiri. Tetap menjadi diri sendiri adalah keharusan untuk berjuang memperjuangkan tahapan dan kualitas hidup yang lebih baik. Kangen memunculkan nostalgi, saat peluh dibayar lunas dengan tawa dan senyuman kebahagiaan.
Atmosfer. Aku terbawa pada suasana riuh tipis di setiap sudut romantis kota ini. Bersama keluarga, kekasih, sahabat dan teman lainnya. Ruh Jogja begitu melekat dan pekat. Jelas itu hanya beberapa, aku tidak dapat menolak kangen yang satu ini.
Halo Jogja dan kalian yang pernah mengisinya, aku kangen.