Wednesday, March 28, 2012

Interdependensi Hati dan Pikiran

Rabu menjadi salah satu hari untuk berkontemplasi dan berdiskusi tentang kehidupan. Singkat namun banyak memberikan point-point penting untuk dicerna dengan baik. Hati dan pikiran dua hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia. Tuhan begitu baik memberikan keduanya untuk kita, membuat kita menikmati kedua sistem itu bekerja. Kompleksitas manis khas Tuhan.

Hati dan pikiran, dua hal yang relatif sulit untuk disinergikan, memetakannya untuk tugas yang berbeda, termasuk di dalamnya adalah tugas untuk berkeputusan. Manusia tidak lepas dari hal berkeputusan dalam hidupnya. Memutuskan adalah kata kerja yang akhir-akhir ini menjadi populer ketika saya menyadari kedewasaan itu menuntut saya untuk berkeputusan. Berkeputusan untuk menentukan pilihan, berkeputusan untuk belajar menjadi lebih baik, dan masih banyak yang lain. Namun saya tertarik untuk membahas mengenai kita sebagai manusia untuk belajar berkeputusan dengan bijaksana, dalam kadar logika dan perasaan yang sehat.
Kita sering dihadapkan pada masalah yang membutuhkan kita untuk membuat keputusan. Anggap saja kasus yang paling ekstrim, ketika kita menentukan keputusan yang akan diambil maka hal itu akan menentukan jalan hidup ke depannya, kita tidak bisa berbalik dan menghapus keputusan yang sudah kita ambil. Kompleks bukan HIDUP itu? Yah teorinya kita dituntut untuk bijaksana dalam memutuskan. Bijaksana sebatas yang saya tahu, adalah dengan menyinergikan hati dan pikiran. Susah memang, tapi begitulah formula yang saya pahami dan yakini ketika kita ingin mengambil keputusan. Saya sedang dalam taraf belajar untuk tidak membebani hati dan pikiran secara berat sebelah, sebab menurut saya, hal itu hanya akan menjadikan subjektifitas menjadi tidak jelas dan cenderung akan membuat kita egois. Egois untuk logika atau egois untuk perasaan. Keduanya bukan kanibal, bukan saling memakan satu sama lain, tapi punya hubungan mutualisme yang saling support.
Sekedar iseng mengingat pelajaran olahraga waktu SD dulu, ketika saya diajari pelajaran senam, salah satunya adalah meniti. Ya, meniti sebuah bambu panjang di halaman sekolah dan berusaha untuk menjaga keseimbangan agar tidak jatuh melewati titian bambu sampai ujung. Menjaga keseimbangan dan berjalan maju. Kondisi statis bagi saya justru mempersulit, sebab bertahan dalam diam justru membuat badan seolah lebih berat tertarik gravitasi. Seperti itu ketika kita dihadapkan pada banyak pilihan, banyak hal yang harus dipikirkan khususnya berkaitan dengan prioritas. Keseimbangan pikiran dalam simpuls-simpuls syaraf yang mengantarkan logika, bersamaan dengan hati yang secara implisit bekerja dengan kecenderungan dan kelembutan, keduanya adalah input yang akan kita proses menjadi pertimbangan-pertimbangan untuk meghasilkan output yaitu keputusan. Masalah yang timbul selain dari keseimbangan adalah waktu. Waktu merupakan variabel yang membuat kita harus mempekerjakan hati dan pikiran dengan cepat, menuntut dari keterbatasan yang waktu sediakan.
Mungkin ada benarnya tipikal manusia adalah pemilih, picky dalam menentukan apa yang terbaik, apa yang membuat kita mendapat yang paling tepat. Tepat. Ketepatan adalah yang dicari dari sebuah keputusan. Hal itu yang membuat kita butuh berdoa, sebab hati dan pikiran tidak selalu tepat dalam memilih, terkadang malah keduanya tidak seiring sejalan, tidak harmonis. Tuhan Maha Bijaksana memberikan manusia kondisi untuk berkeputusan dan melalui kesempatan itu manusia belajar, belajar menerima konsekuensi. Hati dan pikiran bersiap untuk berkonsekuensi, seolah memang keduanya tidak pernah berhenti bekerja.
Saling ketergantungan yang terkadang harus dipisah. Tidak 100% logika, tidak juga 100% hati. Hati dan Pikiran. Dua hal anugerah Tuhan yang sering beranomali. Setiap individu punya anomalinya masing-masing, dan keduanya mempunyai interdependensi tersendiri, subjektif tergantung siapa pemiliknya.
Selamat berproses. Selamat berkeputusan.

Monday, March 26, 2012

Interval (part.2)

a space between things or points, combination of two notes, etc …
Interval seperti arti yang saya tulis di atas, jarak antara dua hal. Hal  itu luas makna, tidak terbatas dan tergantung dari masing-masing orang untuk mengartikannya. Kali ini saya memaknai interval ini untuk beberapa hal. Ekspektasi, rindu dan hubungan manusia, dan idealisme pribadi. 
Banyak yang ada di kepala, kadang tidak terurai sempurna menjadi sebuah kalimat tulis atau lisan. Ada jarak antara apa yang dirasakan dengan apa yang diperbuat, jeda itukah? Semacam lag yang kadang menjadikan hening begitu keramat untuk semakin mendalami pikiran. Termasuk hari itu, ketika sebuah kabar sedikit mengacaukan apa yang disebut ekspektasi. Ada rasa kecewa, jarak yang hadir ketika titik ekspektasi tidak bertemu dengan titik realita. ‘Ruang antara’ yang membuat pikiran dipengaruhi kalut selama beberapa detik. Manusia dengan ekspektasi, seperti yang saya pelajari E(x) = 0, dianggap nol. Kenyataannya manusia tidak bisa menghindari ekspektasi, bukan menghilangkannya sama sekali sebab bagi saya agak mustahil manusia bebas dari ekspektasi, yang ada adalah meminimalkannya, membuat ekspektasi itu sekecil mungkin. Tepatnya mengecilkan resiko untuk kecewa ketika ekspektasi itu tidak bertemu dengan realita. Sekali lagi, saya diingatkan untuk memahami keberanian untuk pengharapan harus disertai dengan keberanian menerima resiko kegagalan. 
Soal rindu dan hubungan manusia, saya terpikir tentang dalam seumur hidup manusia kita terhubung dengan banyak manusia. Manusia satu ke manusia lain, dari satu titik ke titik lain, intervalnya berbeda-beda, sesuai dengan kedekatan. Interval tentang hubungan manusia ini rupanya mempengaruhi sejauh mana kita akan banyak berinteraksi, buakn soal jarak kilometer ataupun mil, tapi jarak hati ke hati. Bagi saya interval itu juga menentukan rasa rindu. ‘Pekat atau cair’ hanya hati masing-masing yang merasakan rindu itu. Ketika saya merindukan teman, sahabat, atau keluarga saat itu juga saya melibatkan hati. ‘Ruang antara’ masing-masing manusia berbeda, begitu juga ketika saya merasakan kedekatan dengan orang lain, ada yang menjadi teman, ada juga yang menjadi sahabat. Interval itu tidak terlepas dari proses dan “klik”. Proses terbentuk dari kejadian, waktu, dan pemaknaan, setiap orang akan memaknai sebuah proses dengan sudut pandangnya sendiri. Ada kalanya mengatakan rindu mendekatkan jarak yang ada, tapi terkadang diam dan mengamati tulisan bisa mengobati rindu, yah saya akhirnya paham ketika rindu menjadi tolak ukur interval saya dengan orang lain. Rindu salah satunya saja. 
Tentang idealisme pribadi, interval itu apa adanya. Ruang antara memahami hati dan pikiran. Selebihnya interval yang saya pikirkan akan tetap ada, entah dalam sebuah versus pribadi yang sangat private dengan pribadi yang sangat sosial dan bentuk versus lain. Sangat ‘aku’, biarlah menjadi pikiran yang akan terus menjadi cambuk untuk senantiasa mengenali diri. 
Kembali ke interval, saat semua yang hadir memiliki titiknya masing-masing, ketika semua yang nyata dan yang diangankan memiliki nadanya masing-masing, ketika semua hal mempunyai ruang antara, ketika interval itu kemudian mejadikan pertanyaan yang terkadang butuh proses untuk menjawabnya. Hidup adalah interval, ada saat manusia diberikan kesempatan untuk memulai dan diberikan kesempatan untuk diakhiri, ada saat ruang antara start dan finish menjadi sebuah proses kehidupan. 
Selamat mengelola jarak masing-masing. 

Sunday, March 25, 2012

interval

saat semua yang hadir memiliki titiknya masing-masing,
ketika semua yang nyata dan yang diangankan memiliki nadanya masing-masing,
ketika semua hal mempunyai ruang antara,
ketika interval itu kemudian mejadikan pertanyaan yang terkadang butuh proses untuk menjawabnya.
Hidup adalah interval, ada saat manusia diberikan kesempatan untuk memulai dan diberikan kesempatan untuk diakhiri, ada saat ruang antara start dan finish menjadi sebuah proses kehidupan.

Memaafkan Masa Lalu Ku Sendiri

Ketika kita sudah mampu untuk memaafkan orang lain dalam hidup kita, orang lain yang mungkin baik secara sengaja atau tidak sengaja mengganggu stabilitas hidup kita, ada satu hal yang mungkin perlu kita lalui sekali lagi. Apa itu? Hal itu adalah "memaafkan diri sendiri".

Pada suatu ketika kita akan bisa melupakan orang lain dalam hidup ini. Kita bisa membuat semuanya biasa-biasa saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi, tetap ada sebuah "crack" dalam diri kita yang terus menghantui, yaitu sikap menyalah-nyalahkan diri sendiri.

Ini adalah hal yang sulit untuk dilakukan bagi saya. Hasilnya semua masih terasa asing dan aneh. Masa lalu itu masih membekas. Butuh beberapa waktu untuk menetralisirnya. Mungkin saya butuh lebih banyak sentuhan dari Sang Khalik.

Selamat Tinggal Masa Lalu

Berhari-hari lamanya, nampaknya susah untuk aku menata hati ini kembali. Mungkin karena aku tidak memiliki pengalaman untuk melakukan manajemen dalam bidang ini. Entah karena idealisme.. ataukah justru hanya karena keluguan dan kepolosan, aku tidak tahu. Namun yang jelas aku bersyukur bisa menjalani segala keluguan dan kepolosan dalam hidup di masa muda ini.

Mungkin saat itu, saya sudah berada dalam posisi offside, hakim garis sudah mengangkat benderanya. Bola itu, ingin sekali saya menendangnya dan mencetak gol! sebuah gol adalah dahaga bagi seorang pemain bola manapun. "Cinta" adalah sebuah dahaga bagi setiap manusia manapun. Tapi, mungkin ada tepatnya jika akhirnya semua itu dihentikan. Akhirnya saya tidak mengejar bola itu di saat waktu yang salah. Karena salah-salah, tendangan ke bola itu bisa mengakibatkan ganjaran negatif buat saya, mulai dari terbuangnya energi yang sia-sia atau bisa dihukum wasit dengan kartu kuning (bisa jadi merah! dan saya keluar dari arena permainan dengan hina). Aku biarkan bola itu lewat, dan tidak tergoda lagi untuk mencoba menendangnya. Bola itu berlalu dan akhirnya ditangkap sang kiper lawan.

Pasti ada waktu lain, di mana saya akan mendapatkan umpan bola yang lebih matang dan lebih ciamik, sehingga semua akan berakhir pada gol yang indah, InsyaAllah. Saya yakin Allah akan memberikan "umpan matang" itu kepada saya. Apa yang bisa saya lakukan sekarang adalah bersabar, berusaha memperbaiki permainan bola saya, berusaha mengikuti aturan dan tidak bermain kasar. Gol indah itu pasti akan datang.

Tapi... begitu sulitnya untuk melupakan, scheme umpan barusan. Rasa-rasanya begitu memanjakan dan memabukkan untuk saya agar segera mencetak gol. Gawang sudah dekat dan saya yakin bisa mencetak gol. Karena antara saya dan bola, rasa-rasanya sudah bersatu. Eghh...

Baiklah, sekarang aku putuskan untuk tidak menyimpan ingatan apa-apa lagi tentang scheme umpan tadi. Aku hapus semua apa yang pernah ada. Hingga 0 %, kosong, hampa, nihil! Bahkan seolah-olahscheme  itu tidak pernah terjadi dalam hidupku. Sehingga jika ada yang bertanya, "wah sayang banget ya, tadi posisimu offside, padahal bolanya sudah enak banget". Saya akan jawab, "Pas yang mana ya? yang menit berapa ya? sudah lupa tuh?".Yah!, ini agar di permainan selanjutnya aku bisa lebih fokus dan memperbaiki kekurangan-kekurangan permainan sepak bola ku.

Semangat baru, mencetak gol dengan baik dan benar serta indah!
Goaaaal!

*Sebuah tulisan metafora

Malades

Apa lagi?
Apa lagi yang masih kau tunggu?
Musim telah berganti, masa perlahan jadi silam
Yang kelam telah silam

Apa lagi?
Dan, siapa lagi yang kau tunggu?
Mereka sudah pergi, dia juga
Bersama surat-suratnya, bersama derai tawanya
Disertai cemooh atas kedurjanaanmu

Kapan lagi?
Kau akan muda seperti ini
Tubuhmu kokoh dan penuh keriangan
Pemikiranmu deras mengalir
Kawan-kawan sudah berteriak memanggil untuk main

Pada siapa?
Kau mengiba..
Jangan katakan tujuanmu tanpa nama
Tanpa yang satu ini, ku yakin hanya omong kosong
Sudah ku katakan, mereka telah pergi
Maka sudahlah…

Setiap pagi partikel lembut melewati pipimu dengan hangat
Begitu pula kiriman cahaya matahari sore
Malam yang kau tolak tak berhenti datang memetaforakan diam
Mengapa tatapanmu tetap kosong?

Manis, selesaikanlah urusanmu
Selama yang kau mau, tanpa batasan waktu
Tetapi, jangan pernah salahkan dirimu lagi
Mungkin, saat kau bangun kembali, ada perkara lain yang terlambat untuk kau pikirkan

"S"

Tidak tahu dari mana awalnya dan dimana rimbanya, namun proses ini terasa sangat tidak mudah. Sebuah proses menghasilan karya yang menjadi sebuah prasyarat kelulusan seorang mahasiswa strata satu. Elegi lima SKS yang tak selamanya mempertemukan antara gairah pribadi dengan dunia penelitian. Kadang prosesnya dipenuhi keluh, ada yang pergi ke tukang data, ada yang menyadur hampir sama dengan penelitian sebelumnya, dan ada pula yang merogoh kocek lalu “sim salabim”! Skripsi jadi dalam beberapa minggu tanpa banyak merepotkan jiwa, raga, hati, dan pikiran dari sebuah nama yang tertulis di halaman sampul. Beberapa orang mengernyit setiap hari meratapi model penelitian yang terlampau sulit dan tak dimengerti, teman-temannya mengolok dan berujar “salah sendiri”.



Seorang dosen mengatakan sebuah kalimat yang kurang lebih “Kalian pantas untuk menderita, karena kalian baru belajar sedikit saja.” Dalam konteks ilmu, barangkali ia benar. Walau sudah tahu tentang banyak hal yang ilmu pelajari, berbagai perjanjian dan aturan mengatakan bahwa kami harus tahu tentang gagasan serupa yang telah ada sebelumnya, siapa yang mengungkapkannya, dan nama apa yang diberikan pada teori tersebut.

Siapa yang mau percaya pada kami? Mungkin itu pertanyaan yang juga sebuah jawaban. Dari sebuah pertanyaan yang mendahuluinya, “Mengapa aku harus mempermasalahkan sesuatu yang sepertinya kutahu apa jawabnya?”, “Mengapa repot-repot berkeliling saat aku tahu asumsiku bisa jadi 100 persen akurat?”, atau “Aku melihat fakta mengatakan demikian, kuesioner dan pengolahan data kadang justru membuat yang ada jadi tak terbukti.” Lucu.

Pada akhirnya, walau disanggah setengah mati, dan demi sebuah cinta pada dunia. Entah dunia yang sebenarnya atau dunia ilmu saja, yang masih jauh dari realita kami harus mengalah dan terus berusaha. Duduk tenang di hadapan layar komputer, mata sibuk mengelilingi lembar demi lembar jurnal. Konsekuensi logis dari tuntutan gelar sarjana yang kredibel bagi nusa dan bangsa, agama, dunia sampai akhirat.

Friday, March 16, 2012

Bingkisan di 1 Juni 2011

Kita adalah sahabat yang dipertemukan Allah saat SMA, yang sampai detik ini saya mengepost kita pun masih bersama. Bersama bukan dalam arti selalu bertemu dan berkomunikasi. Bersama di sini maksudnya adalah seirama dalam doa kita masing-masing. Saya selalu berdoa untuk kesuksesan dia, saya yakin dia juga begitu.
bingkisan spesial adalah salah satu kado terindah dari mepo yang dipostkan tepat pada saat tanggal kelahiran saya. Sebelum kado yang ini dia memberi saya memori yang berisi ucapan selamat ulangtahun, kesan dan pesan dr teman2 saya semasa SMA. Indah, cantik, penuh makna dan berkesan.
Thanks Allah, Thanks mepo :*

Wednesday, March 14, 2012

Hidup Saya Adalah Waktu Juang

  • ada banyak kisah saya punya.
  •  ingin betul saya mendigitalkan semuanya,
  •  mendedikasikan rasa kepada manusia yang tepat
  •  sayang waktu tidak mau diajak diskusi
  •  ada target yang sedang saya kejar
  •  ini tidak mudah,
  •  butuh pemilahan secara tepat, cerdas, dan ikhlas
  •  mungkin nanti saya kembali untuk bersuara
  •  karena setiap hidup adalah perjuangan

Adele - Someone Like You

Tuesday, March 13, 2012

dear Mifta Tri Hidayah

terima kasih..
pernah menjadi pendengar yang baik
pernah mengingatkan saya untuk kembali ke jalan yang benar
pernah mengenalkan saya pada sekumpulan orang-orang luar biasa
sekarang mungkin sulit untuk berbagi dengan cara yang sama
dan ketika saya merindukan waktu yang telah pergi
satu hal yang bisa saya lakukan dari sini
all the best wishes to u, besties..

jujur, di sini kamu cantik dan kalem xD

 raut wajah yang selalu bahagia ketika bersama ponakan kesayangan


dan ini foto kamu yang unik sesaat sedang terkesima dengan pohon yang juga unik 


Hanya sedikit kata yang bisa kurangkai untukmu sahabat, tidak sebanding dengan yang telah kamu beri untuk aku slama ini. Walau sedikit, tp aku menulis dan berpikir cukup lama dan mata panas :D I miss you so beh :* Dan satu lagi, maaf, saat aku selesai merangkai kata baru kusadari jika foto kita bersama tertinggal di komp jogja. So, i take your pict from FB. Sorry :D 

dari
Random yang bernyawa dan bernama
Yunita Hani Pratiwi

Monday, March 12, 2012

Di Sela sempit Ketakutan pun Masih Ada Harapan

Ini saya tulis hari minggu sore, di dalam mobil bersama bapak ibu adek perjalanan pulang dari pantai. Dengan perasaan yang campur tetapi tidak semanis es campur, saya coba menuangkan pikiran saya lewat tulisan *untuk sementara waktu* pada notes bb. Sebenarnya hal ini terjadi pada minggu dini hari, tetapi karena terlalu dalam, saya belum bisa berkata untuk menuangkan kemauan perasaan saya.

Entah apa yang ada di pikiran saya waktu itu, sampai2 saya berani berkata yang bisa dibilang agak 'menohok'. Sepertinya rasa takut sedang menyelimuti benak saya. Takut akan kehilangan seseorang, takut sakit hati, takut kecewa, takut jika nanti sesuatu yang datang itu tak seperti yang saya harapkan. Intinya saya TAKUT. Egois sekali ya saya ini. Padahal takut yang tak berujung itu hanya akan membutakan jalan menuju impian2 yang sudah saya rangkai sebelumnya.

Entah lah, saya terlalu cinta dengannya, tapi saya juga terlalu egois. Sebenarnya saya hanya takut kehilangan. Ahh saya ini layaknya anak kecil yang takut kehilangan mainan kesayangannya. Padahal saya hidup dengan berbagai macam rencana dan tujuan. Dan saya juga tau, dibalik rencana dan tujuan itu tersirat doa yang memohon persetujuan pada Sang Pencipta. Maka dari itu, jika saya ingin rencana dan tujuan saya di'acc' olehNya maka sebaiknya saya banyak berjuang untuk mendapatkan perhatian Sang Pencipta.

Mungkin saat itu saya kurang dibukakan pikiran, sehingga yang muncul hanyalah rasa pesimis dan kurang bersemangat. Saya rasa itu pertanda saya kurang perhatian atas karunia dan nikmatNya. Ini tulisan benar2 muncul dari pikiran dan perasaan saya sendiri ketika perjalanan pulang dari pantai bersama keluarga. Hal ini yang membuat saya sadar, bahwa saya seharusnya lebih bersyukur :)

Dalam sela sempit ketakutan pun masih terdapat harapan yang besar walaupun terkadang tertutup oleh ego masing2. Dalam sela sempit ketakutan masih menyimpan rasa, entah itu rasa benci rasa jengkel rasa kecewa, dan pastinya ada rasa rindu <3

Untuk seseorang di sebrang pulau sana, maaf jika saya banyak merepotkan anda. Maaf jika banyak kata maupun perbuatan saya yang menyinggung anda. Maaf jika saya sering membuat masalah. Maaf jika saya sering membuat anda memikirkan saya. Intinya saya minta maaf atas semua ulah yang saya buat, termasuk ulah karena pemikiran saya yang masih sempit ini.
Doa yang terbaik dari ku selalu mengiringimu. Smg di saat yang indah nanti kita dipertemukan dengan perasaan yang masih sama dg sekarang. Selalu ingat kata yang pernah kamu rangkai 'jagalah rasa ini agar tetap dan selalu manis'.

Udah segitu dulu, gak enak sama keluarga kl nanti saya terlihat berlama2 menulis memandangi bb dan membawa tisyu. Setelah menulis pada notes saya membisikkan pada relung hati sendiri 'bawalah segenggam harapan yang kuat dan besar. takhlukkan rasa takutmu. percayalah padaNya.' dan lalu saya tersenyum lebar sembari memandangi wallpaper bb (red: foto sepasang kekasih yang saling say halo :))
Wallpaper ini selalu menjadi alasan mengapa saya buka tutup kunci bb saya walaupun sms dan bbm tak kunjung menyapa. Yaa tidak lain karena ada senyum nya dan senyum saya di situ. Jadi senyum kan setiap dipandang :D
Sudah ahh, sekian. wass :)




Minggu, 110312
16.38wib
-yhp-

Saturday, March 10, 2012

Cinta Sejati

selamat hari sabtu, dan ini pertanda aku harus terus menambah dan memperbaharui tulisan di blog ini..

di pagi yang cerah ini, di waktu dhuha, menjelang matahari berada di tengah ubun-ubun kepala...

kenapa kali ini aku mengangkat tema cinta mungkin satu alasannya, karena aku pernah baca sebuah artikel, sebuah tulisan agar banyak dibaca oleh pembaca maka buatlah judul semenarik mungkin,,,hhohooo

cinta sejati sebuah kata yang bisa ditafsirakan dengan banyak makna, bagi yang sedang kasmaran dan penuh cinta, cinta sejatinya adalah orang yang dia sayang, tetapi bagi yang sedang tidak memiliki tambatan hati cinta sejatinya bisa menjadi banyak hal, mulai dari pekerjaan, pelajaran, pertemanan, keluarga, dan yang paling parah adalah terus berusahaa mencintai oarang yang suah bukan menjadi miliknya. 

pada hakekatnya, semua manusia dimuka bumi ini, mempunyai kepercaan dan agama masing-masing dan dalam agam sudah sangat jelas dan gamblang bahwa cinta yang hakiki adalah cinta seorang mahluk kepada Penciptanya. mengapa demikian, karena Sang Pencipta adalah segalanya, Sang Penciptalah yang kekal dan abadi.


rasa sayang mausia kepada manusia lainnya hanyalah sebuah hal yang bisa dikatakan semu, dan semua bisa dihitung dengan ukuran umur dari manusia tersebut, tetapi berkaitan dengan rasa sayang kepada Sang Pencipta itulah yang kekal dan abadi.

bukankah baginda Rasul mengajarkan kepada kita untuk terus mencintai Sang Maha Kuasa dan terus bersyukur atas apa yang ada saat ini, indahnya hidup adalah ketika kita bisa mensyukuri nikmat yang ada dan tentunya tetap bersedekah.

subhanallah, sebagai penulis aku juga belum bisa sepenuhnya menerapkan apa yang kutulis. tetapi aku terus mencoba mengamalkan sebuah ayat Al-qur'an yang artinya"sampaikanlah dariKu walau hanya satu ayat". semoga kita terus bisa mencintai sebuah cinta yang hakiki, karena ketika kita terlalu mencintai manusia, maka ada kemungkinan yang kita dapat adalah sakit hati.

8 Kunci Sukses Merajut #LDR



TIDAK sedikit pasangan yang gagal merajut cinta jarak jauh. Faktor kurangnya komunikasi dan pertemuan langsung sering membuat mereka memilih harus berpisah.

Padahal, mereka yang merajut cinta jarak jauh bisa juga sukses hingga tahap pernikahan. Anda bisa mengikuti panduan berikut, seperti dilansir Datingtips.

Buat semacam perjanjian

Tentukan parameter apa yang Anda berdua harapkan pada hubungan ini dan berapa besar komitmen yang akan Anda berikan dan terima. Perjelas apa yang Anda berdua inginkan itu sangat penting untuk mencegah kesalahan dan kesalahpahaman di masa mendatang.

Tetap berhubungan setiap hari

Seperti hubungan percintaan lain, komunikasi yang konstan dibutuhkan untuk tetap terhubung dan mempertahankan ketertarikan satu sama lain. Jika komunikasi melalui telepon biayanya terlalu besar, coba gunakan e-mail. 

Jadwalkan pertemuan 

Bertemu sesekali akan berguna untuk membuat hubungan tetap menyenangkan. Bonusnya adalah mampu memberikan kepuasan bagi Anda berdua untuk melihat, menyentuh, memeluk, dan mencium satu sama lain. Bertemu sesekali juga akan mempertahankan irama hasrat dan gairah Anda untuk terus bersama.

Tegaskan kembali cinta dan komitmen masing-masing 

Jangan berasumsi bahwa hubungan tersebut selalu tumbuh subur. Komunikasikan, dengarkan, dan tegaskan kembali apa yang menjadi permasalahan Anda agar halangan tersebut tidak membesar.

Berikan pasangan informasi perkembangan atau kehidupan Anda 

Anda berdua mungkin berada di lokasi yang berbeda, tapi usahakan untuk tetap berbagi informasi aktivitas maupun teman-teman Anda karena itu penting.

Kepercayaan

Rasa percaya satu sama lain itu esensial untuk hubungan jarak jauh. Tanpa kepercayaan dan kejujuran, maka hubungan tersebut dalam bahaya, sama seperti hubungan normal lainnya. Kecurigaan hanya akan merusak hubungan Anda.

Tetapkan hubungan ini sebagai prioritas tinggi

Usahakan selalu mengangkat telepon dan menepati janji bertemu dengannya.

Tentukan batas lamanya hubungan ini berlangsung

Hal ini bijaksana, untuk mencegah Anda menunggu tanpa kepastian. Menentukan batas akan membantu Anda dan pasangan merencanakan masa depan, seperti menikah.

Monday, March 05, 2012

Quote of The Day

In life, you can't expect everyone to be nice to you, as maybe, you haven't been that nice to everyone anyway. So rather than having bad assumptions about people and question why they treat you unpleasantly, question yourself first.