Rabu menjadi salah satu hari untuk berkontemplasi dan berdiskusi tentang kehidupan. Singkat namun banyak memberikan point-point penting untuk dicerna dengan baik. Hati dan pikiran dua hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang manusia. Tuhan begitu baik memberikan keduanya untuk kita, membuat kita menikmati kedua sistem itu bekerja. Kompleksitas manis khas Tuhan.
Hati dan pikiran, dua hal yang relatif sulit untuk disinergikan, memetakannya untuk tugas yang berbeda, termasuk di dalamnya adalah tugas untuk berkeputusan. Manusia tidak lepas dari hal berkeputusan dalam hidupnya. Memutuskan adalah kata kerja yang akhir-akhir ini menjadi populer ketika saya menyadari kedewasaan itu menuntut saya untuk berkeputusan. Berkeputusan untuk menentukan pilihan, berkeputusan untuk belajar menjadi lebih baik, dan masih banyak yang lain. Namun saya tertarik untuk membahas mengenai kita sebagai manusia untuk belajar berkeputusan dengan bijaksana, dalam kadar logika dan perasaan yang sehat.
Kita sering dihadapkan pada masalah yang membutuhkan kita untuk membuat keputusan. Anggap saja kasus yang paling ekstrim, ketika kita menentukan keputusan yang akan diambil maka hal itu akan menentukan jalan hidup ke depannya, kita tidak bisa berbalik dan menghapus keputusan yang sudah kita ambil. Kompleks bukan HIDUP itu? Yah teorinya kita dituntut untuk bijaksana dalam memutuskan. Bijaksana sebatas yang saya tahu, adalah dengan menyinergikan hati dan pikiran. Susah memang, tapi begitulah formula yang saya pahami dan yakini ketika kita ingin mengambil keputusan. Saya sedang dalam taraf belajar untuk tidak membebani hati dan pikiran secara berat sebelah, sebab menurut saya, hal itu hanya akan menjadikan subjektifitas menjadi tidak jelas dan cenderung akan membuat kita egois. Egois untuk logika atau egois untuk perasaan. Keduanya bukan kanibal, bukan saling memakan satu sama lain, tapi punya hubungan mutualisme yang saling support.
Sekedar iseng mengingat pelajaran olahraga waktu SD dulu, ketika saya diajari pelajaran senam, salah satunya adalah meniti. Ya, meniti sebuah bambu panjang di halaman sekolah dan berusaha untuk menjaga keseimbangan agar tidak jatuh melewati titian bambu sampai ujung. Menjaga keseimbangan dan berjalan maju. Kondisi statis bagi saya justru mempersulit, sebab bertahan dalam diam justru membuat badan seolah lebih berat tertarik gravitasi. Seperti itu ketika kita dihadapkan pada banyak pilihan, banyak hal yang harus dipikirkan khususnya berkaitan dengan prioritas. Keseimbangan pikiran dalam simpuls-simpuls syaraf yang mengantarkan logika, bersamaan dengan hati yang secara implisit bekerja dengan kecenderungan dan kelembutan, keduanya adalah input yang akan kita proses menjadi pertimbangan-pertimbangan untuk meghasilkan output yaitu keputusan. Masalah yang timbul selain dari keseimbangan adalah waktu. Waktu merupakan variabel yang membuat kita harus mempekerjakan hati dan pikiran dengan cepat, menuntut dari keterbatasan yang waktu sediakan.
Mungkin ada benarnya tipikal manusia adalah pemilih, picky dalam menentukan apa yang terbaik, apa yang membuat kita mendapat yang paling tepat. Tepat. Ketepatan adalah yang dicari dari sebuah keputusan. Hal itu yang membuat kita butuh berdoa, sebab hati dan pikiran tidak selalu tepat dalam memilih, terkadang malah keduanya tidak seiring sejalan, tidak harmonis. Tuhan Maha Bijaksana memberikan manusia kondisi untuk berkeputusan dan melalui kesempatan itu manusia belajar, belajar menerima konsekuensi. Hati dan pikiran bersiap untuk berkonsekuensi, seolah memang keduanya tidak pernah berhenti bekerja.
Saling ketergantungan yang terkadang harus dipisah. Tidak 100% logika, tidak juga 100% hati. Hati dan Pikiran. Dua hal anugerah Tuhan yang sering beranomali. Setiap individu punya anomalinya masing-masing, dan keduanya mempunyai interdependensi tersendiri, subjektif tergantung siapa pemiliknya.
Saling ketergantungan yang terkadang harus dipisah. Tidak 100% logika, tidak juga 100% hati. Hati dan Pikiran. Dua hal anugerah Tuhan yang sering beranomali. Setiap individu punya anomalinya masing-masing, dan keduanya mempunyai interdependensi tersendiri, subjektif tergantung siapa pemiliknya.
Selamat berproses. Selamat berkeputusan.




