Kita tidak pernah tahu letak ujung semesta. Menepi di antara sepi dalam sepersekian paruh waktu dan membuat api di tengah udara yang mendingin. Ada bintang di atas kita, meneduhkan kerapuhan yang terkadang tidak kuasa untuk dikalahkan. Setidaknya mereka yang berkilauan menjadi penghiburan.
Senja sudah terlewat, sayang. Waktulah yang membawa kita pada malam penuh doa. Seolah telah terluka dalam hingga harus berpeluh air mata dan senyum belum terkembang seperti layar-layar perahu, hanya getir hanya gelisah. Adanya demikian kini …
Resah berjubel mengantri untuk dieksekusi. Eksekusi peleburan, biar tidak bersisa. Kita bermalam, habiskan sepanjang jam yang ada dalam gelap, membunuh satu per satu resah tadi. Biarkan tangis beradu dalam dingin berteman bara api kecil ini yang tersisa, saat ini.
Doa terakhir untuk malam dalam langit yang teduh. Esok kan datang, waktu baru dalam hari yang kita awali dalam pagi yang terang. Bersemburat biru dengan hiasan awan cantik. Angin akan menerbangkan layarmu, dan senyum kan jua terkembang. Kita berlayar dengan muatan kapal masa lalu, membawa setiap inchi perih dan gurat sendu. Kita tenggelamkan mereka di tengah samudera, tanpa sisa.
Segenggam ini yang kita punya, bahagia.
Rumah kita ada di sini, atapnya luas luar biasa. Tenanglah, kita akan baik-baik saja sebab kita tahu langit adalah tempat terindah untuk berteduh.
Rumah kita ada di sini, atapnya luas luar biasa. Tenanglah, kita akan baik-baik saja sebab kita tahu langit adalah tempat terindah untuk berteduh.
No comments:
Post a Comment