Thursday, July 26, 2012

Suatu Saat

Suatu saat,
kita akan berjalan-jalan ke India, sayang.
berpakaian sederhana, dengan kacamata hitam dan berkalung kamera.
berlari di antara pasar dan kuil-kuil, dimana tanganmu menggandengku erat.

Kita tidak pergi ke Taj Mahal.
kita mencari ketenangan di antara ashram, mungkin di Ladakh atau Agra. 
bermeditasi dalam sunyi selama satu atau dua minggu untuk kemudian berpindah lagi.
kemudian aku sibuk menertawakanmu saat mencicip asamnya yogurt di dalam saus canai, saat kita pelesir di Kolkata.

Kemudian,
dengan bis kaleng yang panas kita menyusur jalanan berpuluh jam untuk mencapai Kashmir.
dataran tinggi dengan pucuk-pucuk gunung yang memutih karena salju,
dan padang bunga tulip yang membuatku tak bisa berkata-kata saking indahnya.
kamu tidak menghadiahi aku sekuntum bunga. cukup kamu fotokan saja dan tunjukkan padaku.
“kita tidak mengambil apapun kecuali foto, kan?” katamu dengan senyum yang paling manis.

Di antara sungai-sungai gletser yang mengalir perlahan di tengah musim panas,
kita melompat berkecipak seperti anak kecil.
sepatu-sepatu kita sudah basah oleh air, tas kita kotor oleh debu gunung, keringat sudah mengering walau beberapa hari tidak mandi, rambutmu pun sudah kusut tertiup angin.
tetapi kita tetap yang paling bahagia hari itu.

Lalu mataku berbinar bahagia ketika tahu,
ternyata kamu tidak lupa kemana aku ingin pergi sejak dulu.
masih dengan sebuah bis kaleng yang panas, kita beranjak ke Nepal.
berpuluh jam pula, jauh, melelahkan.
tapi matamu tidak akan pernah beranjak dariku, memastikan bahwa aku tertidur dengan lelap di bahumu.

Yang selama ini kucari menunggu kita di sana.
kesesakan Kathmandu yang begitu candu,
lorong-lorong sempit di antara rumah bata berjendela ukir,
kuil-kuil yang ramai didatangi pendoa dan sesajen berwarna-warni yang berbau khas,
tari-tarian sepanjang sore dari anak-anak di Durbar Square,
atau kita, sekedar menyaksikan matahari terbenam dari balkon hotel sembari menyesap secangkir susu yak.

Lalu, apalagi yang lebih indah dari Tibet, sayang.
kita berdua tahu itu, dibalik keindahannya kita mafhum tentang konflik berkepanjangan yang belum juga selesai.

tapi hari-hari itu hanya milik kita berdua, sayang.
masih selalu kubayangkan Annapurna, Namche Bazaar, dan hari-hari melelahkan menyusuri punggungan Everest,
bersamamu.

Apakah kau, yang disana, juga mungkin memikirkan petualangan yang sama?

Monday, July 23, 2012

Kau


Kau dengarkan aibku berkali-kali, lalu sebentar saja kau tersenyum, selebihnya kau marahi aku, hingga sumpah aku benar-benar benci. kau bahkan tak peduli.
"sebenarnya dia tidak mau ada yang lain tahu, jangan beritahu ke siapapun ya...". selalu.. selalu kau malah menyuruhku diam selepas aku ucap kalimat itu, dan dengan muka datarmu kau alihkan perbincangan. Kau hargai aku dengan menutup telingamu. aku benci waktu itu.

Surakarta. 07.2012
sekarang aku cinta caramu membuatku benci waktu itu.

Dua Rasa Sepenuh Dunia


leiden.glücklich


Saat kau tertimpa musibah itu satu,
saat kau mengalah atasnya maka jadi dua.
Bahagia dan derita menjadi dua frasa yang silih berganti hadir dalam setiap kisah manusia. Ia pilihan rasa yang datang dan pergi lalu datang lagi.
Tak terjawab apa sebenarnya ia dipilih atau dijatahkan maha pemberi rasa.

Cara dia datang dan pergi adalah rahasia.
ala skenario khas sang pencipta, latarnya sering tak terduga.

Dari mereka berdua telah lahir berjuta kisah aneka tema.
Dari berjuta kisah yang berbeda lahirkan lagi mereka yang sama.
Bahagia-derita.

Ia bisa buat orang tertawa terbahak.
Tapi juga bisa membantingnya hingga menangis terisak.


Ini dua rasa bukan biasa. Dia guru keadilan.
Ia tak kenal kelas sosial . Ia tak seleksi empunya dari harta ataupun bentuk rupa.
Ia datang saja, kapan saja ke siapa saja.
Tak terjawab memang dia dipilih atau dijatahkan sang maha pemberi rasa.

Darinya tumbuh asa dan putus asa.
Dia bukan makanan yang berikan gizi berbentuk uraian glukosa.
Tapi tanpa makan yang memilikinya seakan kuat berlari sepenuh dunia.
Karena dia lahirkan asa.

Dia bukan parasit pohon yang menghisap zat tumbuh inangnya.
Tapi dia buat lemah tak berdaya yang sedang bersamanya.
Karena dia lahirkan putus asa.

Tak terjawab memang dia dipilih atau dijatahkan sang maha pemberi rasa.
Ia tak terlihat. Tapi ia bisa membuat terlihat berbeda.
Pastinya dalam rupa yang sama. Tapi terlihat berbeda.


buat berharga selagi kau masih bisa berusaha.
hari ini sejatinya juga untuk 'nanti'.
Allah doesn’t promise that life would be easy, but Allah promises to walk with you in every step :).

kamar kos. 23.07.12
lima menit setelah tarawih

Dimana ?



Pernah tidak kamu bertanya dalam hati, "mana diriku"?
Atau lebih sederhananya pernah tidak sekelebat hadir pikrian di benak tentang untuk apa sebenarnya kita hidup? tulisan ini bermula dari sapaan kawan lama yang sudah mulai bekerja di salah satu bank swasta. Dia bilang “Kak, capek juga ternyata lama-lama begini, keliatannya saja keren dan mertua bangga tapi hati ane kosong kak, piye ki Kak?”
Entahlah maksud dari yang disampaikannya itu sama dengan ribuan pertanyaan yang sering diam-diam masuk ditengah lamunanku. Betapa banyak manusia zaman kini yang lebih menuhankan materi, lebih buruknya lagi dia gunakan patokan ini menilai sesamanya. Seperti lupa kalau hidup berujung mati. Bukan dalam maksud menggurui karena memang tidak pantas diri ini. Tapi coba tanyakan ke hati sendiri-sendiri.

Aku sering sadar merasa berpura-pura dalam hidup. Menampilkan yang tidak sebenarnya dan menikmati pujian yang tentu tidak sepantasnya. Tapi apa mau dikata, manusiaku sering sekali memahfumkannya, bahkan menikmatinya lalu lupa dan mengulanginya.

Dunia hebat sekali menurutku. Dunia dalam artian segenap godaan yang disajikannya. Lihat betapa banyak manusia yang ditipunya, kalaupun terlalu kasar barangkali kata disilaukan rayuan (dunia) tidak berlebihan, aku salah satu diantara yang menikmati kebutaanya.
Sepenuhnya aku dikuasainya. Mulai dari minyak wangi yang bila lupa memakainya ada rasa rusak di yakin diri berjalan di keramaian kawan-kawan kampus. Merk  baju dan celana yang khawatir diketahui kalau Cuma KW3. Belum lagi nanti.. tentang dimana bekerja, Jakarta? Jogja? jadi apa? Gaji sebulan berapa? Tongkrongannya apa? Apartement mana? Liburan kemana? Banyak lagi dan tentu masing-masing kita punya cerita yang berbeda.
Tentu tak salah kita memperelok tampilan diri, bukti syukur atas karunia jasad dari Tuhan, toh Tuhan juga sebutkan “innallaha jamil wayubbul jamil” yang kurang lebih maknanya Tuhan itu indah dan mencintai keindahan. Dalam pijakan ini tak ada yang salah mendandani diri, rumah dan semua perangkat keduniaan.
Tapi, apakah keberpura-puraan juga dibenarkan..?
Ketidak adilan juga untuk terus dimaklumkan Tuhan..? 

Apa adil saat kita sibuk memperelok tampak dunia tapi kikir untuk urusan bertuhan? Tentu salah kalau kita lebih takut masuk kelas dengan baju buruk ketimbang berjumpa Tuhan hanya dengan baju tidur. Tentu tak benar bila kita sebegitu sibuk mempersiapkan diri untuk perhelatan teman dan seadanya saja menghadiri perhelatan Tuhan?

Dimana kita sebarnya. Bukankah digenggaman Tuhan. Seperti kalimat kun fayakun yang sudah sangat akrab ditelinga kita, bahwa Tuhan maha kuasa atas kehendaknya. Kita manusia, rumahnya lupa. Tapi kitapun manusia punya tugas untuk terus mencari dan mengingat. 

Sering sekali aku lari dari nasehat kebaikan. Jarang aku ingat lama dan tekun menjalankan agama. Sering melintas tanya tentang “dimana aku?” sesering itu pula aku melupakannya. Keberpura-puraan sepertinya sudah memenangkanku.

Malam ini aku tuliskan pertanyaan yang sering melintas itu setelah membaca pesan pendekmu, semoga aku ingat untuk tidak melupakannya lagi. Aku tetap manusia dan Engkau (Allah) tetap Tuhanku. Terima kasih kawan, sedihmu mengingatkanku. Lekas sembuh.

malam 4 Ramadhan 1433H
pesanmu belum kubalas

Sunday, July 22, 2012

Romantis

Romantis itu universal, gak cuma melulu terkorelasi dengan pasangan kekasih, tapi bisa juga bisa bermakna lebih membumi.
 Romantis ke orang tua, romantis ke sahabat, romantis ke teman-teman, romantis ke langit pagi hari, romantis ke secangkir teh.
 Siapapun dan apapun, romantis itu bisa tertuju, dan semoga kita ga canggung buat romantis ke Tuhan.


Yunita Hani Pratiwi, dalam pagi tanpa seduhan teh.

Surat Untuk Perempuan Hebat


18 Juli 1963, kelima dari sepuluh bersaudara, dilahirkan dalam keluarga yang personelnya cukup besar. Bapak, sebutan Eyang Kakung sepertinya mencintai keluarga dalam kuota yang tidak sedikit. Salah satunya, Sri Mulyani, ibuku, yang melengkapi kebahagiaan keluarga besar Muh.Murdani. Sosok mandiri dan tangguh, seolah permasalahan selalu ada solusi untuk orang yang berusaha.

Perbincangan Jumat sore, dalam suatu kesempatan langka mengunjungi pusat perbelanjaan dan melakukan aktivitas belanja layaknya Ibu dan anak. Kondisi sudah lain, tidak sesulit dulu waktu Ibu kecil. Ia tahu benar tidak pernah memanjakan anak-anaknya berlebihan. Kerja keras, belajar, usaha, doa, adalah kata-kata yang identik dalam segala nasihatnya. Malu sekali sore itu, terpikirkan untuk membelikan sesuatu untuk ibuku ini. Tapi dalam kata-katanya beliau menolak, “Ibu seneng kalau anak-anak Ibu sholat dan berdoa, uangnya buat ditabung saja.”


Dalam hati, saya menangis sedalam-dalamya, Ibuku. Bangganya saya dilahirkan oleh perempuan tangguh. Tidak pernah sedikitpun mengeluh sekalipun beban dan lelah di pundaknya. Beliau akan tersenyum bahagia karena anaknya dapat rangking tiga besar, menyempatkan mengambil rapot padahal keadaan tidak memungkinkan. Melihat deretan angka yang diperoleh anak-anaknya dengan jeli, mencermati satu per satu, di tengah malam ketika si anak tertidur lelap.

Sore itu jelas, bukan benda yang beliau inginkan, ia menginginkan anaknya tetap berdoa dalam jalan Allah, dan khusus untuk saya, kelulusan tahun ini akan menjadi lebih dari sekotak parfum dengan wangi favoritnya, atau apapun yang beliau dambakan, satu saja untuk saya, lulus.

18 Juli 2012, 49 tahun. Ibuku, selamat ulang tahun.
Semoga kado itu tidak tertunda lama.

Tuesday, July 10, 2012

Untuk Anugerah Tuhan

Kita hidup di dalam waktu, yang di dalamnya selalu terjadi peristiwa. 
Dan ia selalu berjalan mengubah sekarang menjadi masa lalu.
Perjalanan itu adalah serangkaian pencatatan jejak demi jejak. Jejak itu bisa saja berupa sekedar ingatan, atau jutaan telapak kaki di jalanan, atau prasasti di bebatuan, atau juga relief pada batu-batu candi, yang dari situ kita bisa bercermin.
Bercermin tentang wajah kita pada beberapa detik yang lalu, atau beberapa hari yang lalu. Ada kalanya jejak kaki yang baru saja kita langkahkan terburu dihapus hujan dan kita lupa, tak lagi bisa meraba wajah kita pada beberapa waktu yang lalu. Tetapi kalau kemarin kita mencatat pejalanan kita dengan pahatan relief pada batu-batu candi, dapatkah air hujan melunturkannya? Kurasa tidak, dan bahkan jika seribu tahun lagi kita masih hidup, kita masih akan dapat melihat wajah-wajah kita yang sekarang.
Yang perlu diingat adalah bahwa pencatatan peristiwa itu tak selamanya menyenangkan, tak selamanya mulus. Memahat relief candi adalah suatu penaklukan terhadap bongkahan batu yang teramat keras. Sangat mungkin, alat pahat kita jadi tumpul dan kita harus mengasahnya berkali-kali. Ada kalanya tangan kita lecet karena terlalu keras memegang pahat. Ada kalanya ketika kita terlalu berambisi, tangan kita justru tertusuk oleh alat pahat kita sendiri. 

Sakit, tentu saja.

Tapi kesakitan macam itu tidak akan pernah sia-sia. Tak ada satupun titik waktu yang sia-sia. Ruang tercipta dari kumpulan bidang. Bidang tercipta dari kumpulan garis, dan garis terbentuk karena rangkaian titik demi titik. Pemahaman terhadap makna-makna ruang-ruang kehidupan, hanya mungkin dilakukan saat kita memahami titik-titik tersebut.
Kita anggap saja apa yang baru saja kita alami itu adalah sebuah titik. Kita tak perlu membesar-besarkan sebuah titik. Tapi jangan anggap itu tak berguna.

Kalaupun kamu merasa bahwa langkahmu sudah terlalu jauh tetapi kamu tak sempat menghitung jejak kakimu, setidaknya kamu masih bisa melihat kembali pahatan-pahatanmu yang telah ada. Mungkin ada yang sudah berlumut, ada yang sedikit retak, tapi setidaknya wajahmu masih bisa kamu lihat di sana. Dengan itu kamu bisa bercermin kembali. Saat itulah kami akan merasa bahwa apa yang kamu pahatkan di masa lalu benar-benar menjadi sesuatu yang sangat berguna. Saat itulah kamu akan merasa bersyukur karena dulu pernah memahatkan relief-relief itu, meski dengan sedikit kesakitan.

Barangkali kesakitan adalah jalan.


Pedang tajam karena diasah, bahkan sebelumnya ia ditempa di dalam bara yang tentu sjaa sangat panas. Tapi memang itulah satu-satunya cara agar kita jadi berguna. Untuk bisa sampai pada suatu kejayaan, seseorang memang harus merasakan bantingan dahulu.

Jadi, tak perlu resah dengan bantingan-bantingan yang sekarang terjadi. Angap saja hidupmu ini seperti bola karet. Semakin keras ia dibanting ke bawah, maka akan semakin tinggi pula ia akan melenting. Semakin keras ia jatuh, maka nantinya akan semakin tinggi pula ia akan melambung. Percayalah bahwa, serendah apapun kamu terlempar ke bawah, pasti akan ada suatu titik balik dimana kamu bisa naik melesat menembus langit.

Hidup tak pernah berkata lelah!
Kita pertaruhkan segalanya untuk menjadi berarti!


Mungkin sekarang kamu sedang kedinginan, hujan di sepanjang jalan dan kamu belum menemukan tempat berteduh. Tapi anggap saja langit sedang berusaha menyegarkan tubuhmu, membasuh kotoran-kotoran yang melekat di seluruh tubuhmu. Yakinlah bahwa hujan adalah sebuah proses yang terjadi karena penguasa langit sedang berusaha menggambar warna-warna pelangi. Langit tak akan berwarna-warni tanpa ada titik-titik air di udara.

Nantinya,
jika warna-warni pelangi itu telah lahir,
dan kamu masih merasa sepi sampai langit bermetamorfosa menjadi jingga,

maka paksalah aku untuk menemani kamu! 


Di depan kamarku, di bawah langit sore yang cerah
10 Juli 2012

Cahaya Bulan


Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih
Lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar detak jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua
Kecuali dalam cinta

Cahaya bulan menusukku
Dengan ribuan pertanyaan
Yang takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagaikan letusan berapi
Bangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri
Mencari jawaban kegelisahan hati

-Soe  Hok Gie-