7 Maret 2013- Sejarah mencatat, pergerakan perempuan di dunia dimulai ketika masa
ekspansi industri pada tahun 1900an, tahun dimana juga terjadi ledakan
penduduk dan perkembangan ideologi yang radikal. Tepat di tahun 1908,
kaum perempuan memulai melawan ketimpangan yang terjadi, bersuara untuk
perubahan. Lima belas ribu perempuan berorasi dan menggelar long march
di New York City, meminta jam pengurangan jam kerja, hak suara, dan
upah yang layak. Momentum itu berkembang dan tiap negara pun punya
sejarah masing-masing tentang pergerakan perempuan.
Di antara milyaran manusia di dunia, kaum feminim mendapat
keistimewaannya. Istimewa karena pada pendahulu telah membuka jalan agar
kaum feminim bisa berkarya dan mendapatkan haknya secara manusiawi.
Dalam sisi ini, perubahan terjadi karena ada keberanian. Tidakkah
sejarah perempuan di Indonesia telah berevolusi, kehadiran sosok-sosok
inspiratif seperti R.A Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Martha
Christina Tiahahu, mereka adalah sosok yang hadir ketika Indonesia masih
terbelenggu penjajahan. Kita bukan lagi mengalami masa memanggul bambu
runcing ataupun terpasung di rumah ketika para lelaki mendapatkan
pendidikan sekolah. Kita perempuan yang hidup di zaman yang terus
bergelut dengan perubahan.
Kita beragam dalam pandangan, kita hadir ketika dunia memberikan
kesempatan dan tantangan lain. Pandai menjadi ibu rumah tangga itu
mutlak, sebab merupakan kodrat yang memberikan kebahagiaan lahir batin.
Di sisi lain, ada jati diri perempuan yang perlu muncul dan mendapat
ruang, dan hal tersebut ada pada pilihan masing-masing. Pada hati yang
meyakini dirinya ingin menjadi apa, pada pikiran yang terus ingin diasah
untuk menajamkan pemahaman tentang dunia dan semestanya.
Tidak mudah menjalankan peran, pada waktu yang sudah berjalan kita
belajar, pada hari ini dan nanti kita akan tahu dan mengalami menjadi
perempuan yang sebenarnya kita inginkan.
Selamat Hari Perempuan Sedunia, semoga kita selalu menjadi diri sendiri.

sumber gambar : google.com
No comments:
Post a Comment