a space between things or points, combination of two notes, etc …
Interval seperti arti yang saya tulis di atas, jarak antara dua hal. Hal itu luas makna, tidak terbatas dan tergantung dari masing-masing orang untuk mengartikannya. Kali ini saya memaknai interval ini untuk beberapa hal. Ekspektasi, rindu dan hubungan manusia, dan idealisme pribadi.
Banyak yang ada di kepala, kadang tidak terurai sempurna menjadi sebuah kalimat tulis atau lisan. Ada jarak antara apa yang dirasakan dengan apa yang diperbuat, jeda itukah? Semacam lag yang kadang menjadikan hening begitu keramat untuk semakin mendalami pikiran. Termasuk hari itu, ketika sebuah kabar sedikit mengacaukan apa yang disebut ekspektasi. Ada rasa kecewa, jarak yang hadir ketika titik ekspektasi tidak bertemu dengan titik realita. ‘Ruang antara’ yang membuat pikiran dipengaruhi kalut selama beberapa detik. Manusia dengan ekspektasi, seperti yang saya pelajari E(x) = 0, dianggap nol. Kenyataannya manusia tidak bisa menghindari ekspektasi, bukan menghilangkannya sama sekali sebab bagi saya agak mustahil manusia bebas dari ekspektasi, yang ada adalah meminimalkannya, membuat ekspektasi itu sekecil mungkin. Tepatnya mengecilkan resiko untuk kecewa ketika ekspektasi itu tidak bertemu dengan realita. Sekali lagi, saya diingatkan untuk memahami keberanian untuk pengharapan harus disertai dengan keberanian menerima resiko kegagalan.
Soal rindu dan hubungan manusia, saya terpikir tentang dalam seumur hidup manusia kita terhubung dengan banyak manusia. Manusia satu ke manusia lain, dari satu titik ke titik lain, intervalnya berbeda-beda, sesuai dengan kedekatan. Interval tentang hubungan manusia ini rupanya mempengaruhi sejauh mana kita akan banyak berinteraksi, buakn soal jarak kilometer ataupun mil, tapi jarak hati ke hati. Bagi saya interval itu juga menentukan rasa rindu. ‘‘Pekat atau cair’ hanya hati masing-masing yang merasakan rindu itu. Ketika saya merindukan teman, sahabat, atau keluarga saat itu juga saya melibatkan hati. ‘Ruang antara’ masing-masing manusia berbeda, begitu juga ketika saya merasakan kedekatan dengan orang lain, ada yang menjadi teman, ada juga yang menjadi sahabat. Interval itu tidak terlepas dari proses dan “klik”. Proses terbentuk dari kejadian, waktu, dan pemaknaan, setiap orang akan memaknai sebuah proses dengan sudut pandangnya sendiri. Ada kalanya mengatakan rindu mendekatkan jarak yang ada, tapi terkadang diam dan mengamati tulisan bisa mengobati rindu, yah saya akhirnya paham ketika rindu menjadi tolak ukur interval saya dengan orang lain. Rindu salah satunya saja.
Tentang idealisme pribadi, interval itu apa adanya. Ruang antara memahami hati dan pikiran. Selebihnya interval yang saya pikirkan akan tetap ada, entah dalam sebuah versus pribadi yang sangat private dengan pribadi yang sangat sosial dan bentuk versus lain. Sangat ‘aku’, biarlah menjadi pikiran yang akan terus menjadi cambuk untuk senantiasa mengenali diri.
Kembali ke interval, saat semua yang hadir memiliki titiknya masing-masing, ketika semua yang nyata dan yang diangankan memiliki nadanya masing-masing, ketika semua hal mempunyai ruang antara, ketika interval itu kemudian mejadikan pertanyaan yang terkadang butuh proses untuk menjawabnya. Hidup adalah interval, ada saat manusia diberikan kesempatan untuk memulai dan diberikan kesempatan untuk diakhiri, ada saat ruang antara start dan finish menjadi sebuah proses kehidupan.
Selamat mengelola jarak masing-masing.
No comments:
Post a Comment