Monday, September 03, 2012

Peluk


Peluk kaya akan emosi: bahagia, haru, hampa, kosong.

Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, menyambut buncah tawa dan wajah yang sumringah. Pelukan bahagia akan membuat dua orang menghentakkan pundaknya, diikuti dengan gerak kaki berirama, ke kiri, ke kanan. Salah satunya akan berbisik dalam senyum, yang lain akan merapatkan dekapnya. Momen itu akan ditutup dengan kalimat syukur: Alhamdulillah yang menguar di udara dan mengembang dalam hati.

Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, tanpa kata-kata. Dia ajaib, karena bisa mengubah seorang yang awalnya saya baik-baik saja menjadi seorang yang melankolis. Saya baik-baik saja akan menjadi saya tidak baik-baik saja, saya sedang bersedih, dan saya memang butuh pelukan. Peluk akan membawa kejujuran dalam haru. Dia akan melunakkan topeng dan memaklumi lemahnya manusia.

Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, walau kadang beriring dengan buliran air mata. Peluk membawa kehidupan bagi hampa. Menguatkan, seperti dedaunan yang melindungi rantingnya. Kali ini doa-doa yang terurai, menemani nyawa yang kembali terkumpul. Peluk mengembalikan semangat. Semangat untuk memahami takdir, semangat untuk hidup.

Namun ada kalanya hangat peluk sudah tidak tertangkap indra. Rasanya sama persis dengan udara yang memberi ruang di antara dua tubuh: kosong. Mungkin saat itu peluk butuh jeda. Mungkin saat itu peluk butuh pengertian. Jeda untuk berbenah, dan pengertian untuk menunggunya kembali, atau, merelakannya pergi. 

No comments:

Post a Comment