Peluk kaya akan emosi: bahagia, haru, hampa, kosong.
Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, menyambut
buncah tawa dan wajah yang sumringah. Pelukan bahagia akan membuat dua
orang menghentakkan pundaknya, diikuti dengan gerak kaki berirama, ke
kiri, ke kanan. Salah satunya akan berbisik dalam senyum, yang lain akan
merapatkan dekapnya. Momen itu akan ditutup dengan kalimat syukur: Alhamdulillah yang menguar di udara dan mengembang dalam hati.
Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, tanpa kata-kata. Dia ajaib, karena bisa mengubah seorang yang awalnya saya baik-baik saja menjadi seorang yang melankolis. Saya baik-baik saja akan menjadi saya tidak baik-baik saja, saya sedang bersedih, dan saya memang butuh pelukan. Peluk akan membawa kejujuran dalam haru. Dia akan melunakkan topeng dan memaklumi lemahnya manusia.
Dia datang dalam hangatnya dekap lengan, walau
kadang beriring dengan buliran air mata. Peluk membawa kehidupan bagi
hampa. Menguatkan, seperti dedaunan yang melindungi rantingnya. Kali ini
doa-doa yang terurai, menemani nyawa yang kembali terkumpul. Peluk
mengembalikan semangat. Semangat untuk memahami takdir, semangat untuk
hidup.
Namun ada kalanya hangat peluk sudah tidak
tertangkap indra. Rasanya sama persis dengan udara yang memberi ruang di
antara dua tubuh: kosong. Mungkin saat itu peluk butuh jeda. Mungkin
saat itu peluk butuh pengertian. Jeda untuk berbenah, dan pengertian
untuk menunggunya kembali, atau, merelakannya pergi.
No comments:
Post a Comment