Dan ia selalu berjalan mengubah sekarang menjadi masa lalu.
Perjalanan itu adalah serangkaian pencatatan jejak demi jejak. Jejak itu bisa saja berupa sekedar ingatan, atau jutaan telapak kaki di jalanan, atau prasasti di bebatuan, atau juga relief pada batu-batu candi, yang dari situ kita bisa bercermin.
Bercermin tentang wajah kita pada beberapa detik yang lalu, atau beberapa hari yang lalu. Ada kalanya jejak kaki yang baru saja kita langkahkan terburu dihapus hujan dan kita lupa, tak lagi bisa meraba wajah kita pada beberapa waktu yang lalu. Tetapi kalau kemarin kita mencatat pejalanan kita dengan pahatan relief pada batu-batu candi, dapatkah air hujan melunturkannya? Kurasa tidak, dan bahkan jika seribu tahun lagi kita masih hidup, kita masih akan dapat melihat wajah-wajah kita yang sekarang.
Yang perlu diingat adalah bahwa pencatatan peristiwa itu tak selamanya menyenangkan, tak selamanya mulus. Memahat relief candi adalah suatu penaklukan terhadap bongkahan batu yang teramat keras. Sangat mungkin, alat pahat kita jadi tumpul dan kita harus mengasahnya berkali-kali. Ada kalanya tangan kita lecet karena terlalu keras memegang pahat. Ada kalanya ketika kita terlalu berambisi, tangan kita justru tertusuk oleh alat pahat kita sendiri.
Sakit, tentu saja.
Tapi kesakitan macam itu tidak akan pernah sia-sia. Tak ada satupun titik waktu yang sia-sia. Ruang tercipta dari kumpulan bidang. Bidang tercipta dari kumpulan garis, dan garis terbentuk karena rangkaian titik demi titik. Pemahaman terhadap makna-makna ruang-ruang kehidupan, hanya mungkin dilakukan saat kita memahami titik-titik tersebut.
Kita anggap saja apa yang baru saja kita alami itu adalah sebuah titik. Kita tak perlu membesar-besarkan sebuah titik. Tapi jangan anggap itu tak berguna.
Kalaupun kamu merasa bahwa langkahmu sudah terlalu jauh tetapi kamu tak sempat menghitung jejak kakimu, setidaknya kamu masih bisa melihat kembali pahatan-pahatanmu yang telah ada. Mungkin ada yang sudah berlumut, ada yang sedikit retak, tapi setidaknya wajahmu masih bisa kamu lihat di sana. Dengan itu kamu bisa bercermin kembali. Saat itulah kami akan merasa bahwa apa yang kamu pahatkan di masa lalu benar-benar menjadi sesuatu yang sangat berguna. Saat itulah kamu akan merasa bersyukur karena dulu pernah memahatkan relief-relief itu, meski dengan sedikit kesakitan.
Barangkali kesakitan adalah jalan.
Pedang tajam karena diasah, bahkan sebelumnya ia ditempa di dalam bara yang tentu sjaa sangat panas. Tapi memang itulah satu-satunya cara agar kita jadi berguna. Untuk bisa sampai pada suatu kejayaan, seseorang memang harus merasakan bantingan dahulu.
Jadi, tak perlu resah dengan bantingan-bantingan yang sekarang terjadi. Angap saja hidupmu ini seperti bola karet. Semakin keras ia dibanting ke bawah, maka akan semakin tinggi pula ia akan melenting. Semakin keras ia jatuh, maka nantinya akan semakin tinggi pula ia akan melambung. Percayalah bahwa, serendah apapun kamu terlempar ke bawah, pasti akan ada suatu titik balik dimana kamu bisa naik melesat menembus langit.
Hidup tak pernah berkata lelah!
Kita pertaruhkan segalanya untuk menjadi berarti!
Mungkin sekarang kamu sedang kedinginan, hujan di sepanjang jalan dan kamu belum menemukan tempat berteduh. Tapi anggap saja langit sedang berusaha menyegarkan tubuhmu, membasuh kotoran-kotoran yang melekat di seluruh tubuhmu. Yakinlah bahwa hujan adalah sebuah proses yang terjadi karena penguasa langit sedang berusaha menggambar warna-warna pelangi. Langit tak akan berwarna-warni tanpa ada titik-titik air di udara.
Nantinya,
jika warna-warni pelangi itu telah lahir,
dan kamu masih merasa sepi sampai langit bermetamorfosa menjadi jingga,
maka paksalah aku untuk menemani kamu!
Di depan kamarku, di bawah langit sore yang cerah
10 Juli 2012
No comments:
Post a Comment