18
Juli 1963, kelima dari sepuluh bersaudara, dilahirkan dalam keluarga yang
personelnya cukup besar. Bapak, sebutan Eyang Kakung sepertinya mencintai
keluarga dalam kuota yang tidak sedikit. Salah satunya, Sri Mulyani, ibuku, yang
melengkapi kebahagiaan keluarga besar Muh.Murdani. Sosok
mandiri dan tangguh, seolah permasalahan selalu ada solusi untuk orang yang
berusaha.
Perbincangan
Jumat sore, dalam suatu kesempatan langka mengunjungi pusat perbelanjaan dan
melakukan aktivitas belanja layaknya Ibu dan anak. Kondisi sudah lain, tidak sesulit
dulu waktu Ibu kecil. Ia tahu benar tidak pernah memanjakan anak-anaknya
berlebihan. Kerja keras, belajar, usaha, doa, adalah kata-kata yang identik
dalam segala nasihatnya. Malu sekali sore itu, terpikirkan untuk membelikan
sesuatu untuk ibuku ini. Tapi dalam kata-katanya beliau menolak, “Ibu seneng
kalau anak-anak Ibu sholat dan berdoa, uangnya buat ditabung saja.”
Dalam hati, saya menangis sedalam-dalamya, Ibuku. Bangganya saya dilahirkan oleh perempuan tangguh. Tidak pernah sedikitpun mengeluh sekalipun beban dan lelah di pundaknya. Beliau akan tersenyum bahagia karena anaknya dapat rangking tiga besar, menyempatkan mengambil rapot padahal keadaan tidak memungkinkan. Melihat deretan angka yang diperoleh anak-anaknya dengan jeli, mencermati satu per satu, di tengah malam ketika si anak tertidur lelap.
Sore
itu jelas, bukan benda yang beliau inginkan, ia menginginkan anaknya tetap
berdoa dalam jalan Allah, dan khusus untuk saya, kelulusan tahun ini akan
menjadi lebih dari sekotak parfum dengan wangi favoritnya, atau apapun yang
beliau dambakan, satu saja untuk saya, lulus.
18
Juli 2012, 49 tahun. Ibuku, selamat ulang tahun.
Semoga
kado itu tidak tertunda lama.
No comments:
Post a Comment