Sunday, July 22, 2012

Surat Untuk Perempuan Hebat


18 Juli 1963, kelima dari sepuluh bersaudara, dilahirkan dalam keluarga yang personelnya cukup besar. Bapak, sebutan Eyang Kakung sepertinya mencintai keluarga dalam kuota yang tidak sedikit. Salah satunya, Sri Mulyani, ibuku, yang melengkapi kebahagiaan keluarga besar Muh.Murdani. Sosok mandiri dan tangguh, seolah permasalahan selalu ada solusi untuk orang yang berusaha.

Perbincangan Jumat sore, dalam suatu kesempatan langka mengunjungi pusat perbelanjaan dan melakukan aktivitas belanja layaknya Ibu dan anak. Kondisi sudah lain, tidak sesulit dulu waktu Ibu kecil. Ia tahu benar tidak pernah memanjakan anak-anaknya berlebihan. Kerja keras, belajar, usaha, doa, adalah kata-kata yang identik dalam segala nasihatnya. Malu sekali sore itu, terpikirkan untuk membelikan sesuatu untuk ibuku ini. Tapi dalam kata-katanya beliau menolak, “Ibu seneng kalau anak-anak Ibu sholat dan berdoa, uangnya buat ditabung saja.”


Dalam hati, saya menangis sedalam-dalamya, Ibuku. Bangganya saya dilahirkan oleh perempuan tangguh. Tidak pernah sedikitpun mengeluh sekalipun beban dan lelah di pundaknya. Beliau akan tersenyum bahagia karena anaknya dapat rangking tiga besar, menyempatkan mengambil rapot padahal keadaan tidak memungkinkan. Melihat deretan angka yang diperoleh anak-anaknya dengan jeli, mencermati satu per satu, di tengah malam ketika si anak tertidur lelap.

Sore itu jelas, bukan benda yang beliau inginkan, ia menginginkan anaknya tetap berdoa dalam jalan Allah, dan khusus untuk saya, kelulusan tahun ini akan menjadi lebih dari sekotak parfum dengan wangi favoritnya, atau apapun yang beliau dambakan, satu saja untuk saya, lulus.

18 Juli 2012, 49 tahun. Ibuku, selamat ulang tahun.
Semoga kado itu tidak tertunda lama.

No comments:

Post a Comment