Thursday, October 11, 2012

Aku, Kamu dan Rapuh

Jika aku diam bukan kecewa karena cintaku tak kau balas, tp aku sedang memberimu kesempatan menjadi matang kepengasuhan.
Jika aku berkata kasar, bukan karena aku lupa cara-cara lembut, tapi aku sedang memberikanmu palu demi memecah kebebalan.
Jika aku bersuara lantang bukan sedang membentak dan merendahkan, tapi sedang memberi penghormatan atas fungsi telinga dan hatimu.
Jika kalimat2ku menyakitimu bukan aku sedang melukaimu, aku sedang mewakili kecerdasanmu yg lama tandus kerontang.

'Aku' adalah nuraniku dan 'kamu' adalah aku yg rajin mengabaikan.

Seseorang menyuruhku bercermin, lalu aku melakukannya. Kudekati cermin, kupandangi bayangan elok dan cantik rupa, itu aku. Tp..
Kudekatkan, kusodorkan bahkan kutempelkan wajahku ke cermin supaya jelas, malah tak nampak rupaku.
Hidup bagai cermin, makin lekat ke cermin, makin tidak berujud, melebur dalam kehidupan.
Semua titah kemakhlukan adalah cerminku, dan cermin terbaik yg aku pilih sekarang adalah Tanah.
Kucoba rundukkan wajah ini untuk bercermin kepada bumi, kurendahkan, kulekatkan dan tiba2 aku bersujud meniru gerakan bumi dan selaksa jagad.
Belajar kepada kapur tulis, yg rela terkikis mengurai diri demi menyampaikan pesan.
Kapur memang rapuh, tapi dia kuat menoreh kalimat dan gambar di atas papan tulis. Menuturkan makna.
Kapur menyangga beban yang tak nampak secara jasad, rahasia dan tak kasat. Jika terjasad, kapur akan lantak menjelma serbuk dan jika manusia mengerti apa yg dia sangga, sesungguhnya sadar akan kerapuhan adalah pilihan bijaksana.
Bukan jenis kerapuhan untuk latah lalu patah, tapi rapuh yang berpinta kekuatan menyangga tugas meski terkikis dalam papan kehidupan.
Rapuh yang sadar menorehkan laku kebaikan, menuturkan makna, memanjingkan kearifan, dan menyampaikan keindahan.

No comments:

Post a Comment