Friday, January 11, 2013

Jogja-Solo

Maukah kamu hidup dengan caraku?

Katakan, bagaimana caramu?

Sesederhana tinggal di Jogja dan pergi mencari ilmu di Solo.

Becanda. Apa enaknya?

Aku tahu Jogja memang terlalu padat sekarang, tetapi ada satu hal yang tak dapat kamu abaikan. Bahwa perjalanan pulang dan pergi ke tempat mencari ilmu setiap hari adalah hal yang paling membuat letih dan memakan banyak waktu.

Lantas, apa bedanya dengan apa yang kamu tawarkan?

Lihat kereta itu, yang selalu penuh di pagi hari dari arah Solo ke Jogja. Di sore hari akan berbalik, arah Jogja ke Solo jadi terlalu ramai sampai sesak. Coba bayangkan, bila kita berangkat ke Solo di pagi hari dan pulang ke Jogja di sore hari. Kereta yang melawan arus dari lalu lalang pelaju di sini hanya ditumpangi oleh sedikit orang. Bukankah ini menyenangkan? Aku pun yakin bahwa dengan melawan arus ini kita tak akan dekat dengan kelaparan. Setiap hari kita tetap dapat membeli roti sebanyak yang kamu mau dan susu yang melimpah sampai kekenyangan. Maafkan bila aku tak dapat menjanjikan kilauan emas berlebih seperti yang mereka miliki. Tetapi bisa juga tidak demikian, asalkan kamu percaya.


Aku lebih dari percaya atas apa yang kamu katakan. Kemilau-kemilau itu tidak begitu aku pedulikan. Bisa menikmati waktu luang lebih banyak dalam hidup dan memaknainya bersamamu adalah yang lebih aku utamakan. Kita lawan saja arus ini, bukan karena merasa lebih hebat bila begini, tetapi memang tujuan hidup kita berbeda dengan mereka.

dari masa lalu dari sebuah perbincangan ratusan kilometer tentang sebuah masa.

Friday, December 21, 2012

A Place


When destiny brought me here …

 a place that I called it a home, with stories about life, love, and friendships. 
A place that always give me serene conditions from its simplicity through memorable years.
 A place that inked in heart like kids get tighter shoes every year, like trees get new branches in spring time, like caterpillars become cocoons and then transformed into beautiful butterflies. 
A place that has given me amazing phases of life never could be counted. 

The memories seem like endless, eternal, and inclusive.
 The atmosphere of city, I called it the bell of sadness and happiness. 
It saved my all stories behind, in silences and unique ways.

Wednesday, November 28, 2012

Tidak Hanya Sekedar Tulisan

Di dalam hidup yang sekali ini, idealnya kita berkeputusan dengan hati yang merdeka. Tidak salah punya idealisme, tidak salah punya impian, sebab itu adalah salah satu hal terindah yang dimiliki manusia. Ideal yang akan terus menjadi pertanyaan bila hanya duduk diam. Ideal yang akan musnah bila hanya disimpan dalam catatan, menjadi lembaran klasik yang hanya berbatas sebatas waktu hidup. Saat ini hati bertanya jalan yang akan membawa semua mimpi-mimpi ini, saat terbangun seperti berujung sepi sekian hari, tanpa ide. Harusnya laku ini lebih giat mencari, entah jalan setapak, jalan aspal, atau bahkan harus menebas rerumputan dan membuat jalan baru. Ya, harus lebih giat. Jangan menyerah terlalu cepat untuk sebuah usaha yang belum diusahakan. Saatnya mencari lebih giat, saatnya melatih hati agar lebih kuat, saatnya untuk tidak hanya sekedar menulis.

Selipan cerita 060912



Empat tahun, perahu ini mencapai titik transitnya yang kesekian. Alam dengan rahasianya telah membawanya berlabuh sementara di tepian, di titik transit terbaik yang ia temukan di tengah samudera. Perahu ini ingin berlayar lagi, sebab ia tahu tak mungkin layarnya mati terdiam menunggu dengan sepi. Sebentar lagi ya, logistik sedang dipersiapkan, layar sedang diperbaiki, biar ia kuat lagi menahan laju angin di depan, yang mungkin saja lebih kencang.
Nanti ada saatnya mengucapkan, selamat berlayar. Nanti, sabar menantikan untuk petulangan baru. Selamat Yunita Hani Pratiwi, S.P.
-6sept2012-

Thursday, October 18, 2012


Untuk mula paragraf ini terisi terimakasih untuk mereka yang hari ini membuat saya tidak menangis seharian. Untuk semangat, kata-kata, senyuman, dan doa yang tertuju buat saya, saya berterimakasih.
Untuk kedua orangtua yang menunggu anaknya pulang dengan kabar baik, semoga Allah memberikan keduanya perasaan bahagia.
Untuk hari dimana saya hanya bisa mengeja legowo dengan terbata-bata, saya tahu ini bukan hari terbaik, yang ada self ego mendominasi dan berat untuk bisa mengalahkannya, saya berusaha tiap menit untuk berpikir positif, untuk kesempatan yang akan diberikan Tuhan untuk saya, apapun itu, pastinya terbaik.
Soal esok yang tidak tertebak, seorang sahabat mengatakan, berbagi ceritalah dengan Tuhan. Ya benar. Esok, jadilah esok yang membahagiakan apapun itu.
mungkin sekarang adalah waktu, proses itu menyeleksi, cara terbaik melewatinya adalah menghadapinya dengan usaha yang dilakukan, ketidakmungkinan dan kemungkinan bukan urusan manusia lagi, maka berbagilah denganNya, Hani.

Cinta Yang Tegas


CINTA yang TEGAS; jika kamu mencintai, kamu merelakan diri dalam kepekatan yg nyaris tanpa ada lagi cahaya, yang kamu perlukan adalah adegan yang memaksamu tidak lagi percaya kepada keyakinan mata dan telinga, hingga mata hati tiba-tiba jadi cahaya yang benderang menyeruak dari nurani menerangi dirimu dan sekitarmu.
Jika kamu sanggupi cinta hingga jenis yang ke 4. Maka kau telah menegaskan kematangan cintamu. 
Bukan cinta yang menye-menye. Bukan cinta yg menuntut atau menghiba. 
Sebab telah muncul cahaya dr dalam diri yang terhubung dengan sumber cahaya, maka jikapun terus dalam gelap pekat tidak takut buta menyergap. 
Dan jika disaat paling pekat dan penuh lara, kamu masih mampu mempersembahkan cinta yang tulus, maka… 
Maka dalam keadaan lebih terang, cintamu serta merta telah menyatu dalam cinta luasnya semesta. 
Dan yang perlu diyakini, puncaknya pekat adalah hadirnya cahaya.
Cinta Tegas inilah yang akan menyambut dengan penuh sukacita datangnya fajar harapan dan benderang hati yang sabar dan matang.

Thursday, October 11, 2012

Aku, Kamu dan Rapuh

Jika aku diam bukan kecewa karena cintaku tak kau balas, tp aku sedang memberimu kesempatan menjadi matang kepengasuhan.
Jika aku berkata kasar, bukan karena aku lupa cara-cara lembut, tapi aku sedang memberikanmu palu demi memecah kebebalan.
Jika aku bersuara lantang bukan sedang membentak dan merendahkan, tapi sedang memberi penghormatan atas fungsi telinga dan hatimu.
Jika kalimat2ku menyakitimu bukan aku sedang melukaimu, aku sedang mewakili kecerdasanmu yg lama tandus kerontang.

'Aku' adalah nuraniku dan 'kamu' adalah aku yg rajin mengabaikan.

Seseorang menyuruhku bercermin, lalu aku melakukannya. Kudekati cermin, kupandangi bayangan elok dan cantik rupa, itu aku. Tp..
Kudekatkan, kusodorkan bahkan kutempelkan wajahku ke cermin supaya jelas, malah tak nampak rupaku.
Hidup bagai cermin, makin lekat ke cermin, makin tidak berujud, melebur dalam kehidupan.
Semua titah kemakhlukan adalah cerminku, dan cermin terbaik yg aku pilih sekarang adalah Tanah.
Kucoba rundukkan wajah ini untuk bercermin kepada bumi, kurendahkan, kulekatkan dan tiba2 aku bersujud meniru gerakan bumi dan selaksa jagad.
Belajar kepada kapur tulis, yg rela terkikis mengurai diri demi menyampaikan pesan.
Kapur memang rapuh, tapi dia kuat menoreh kalimat dan gambar di atas papan tulis. Menuturkan makna.
Kapur menyangga beban yang tak nampak secara jasad, rahasia dan tak kasat. Jika terjasad, kapur akan lantak menjelma serbuk dan jika manusia mengerti apa yg dia sangga, sesungguhnya sadar akan kerapuhan adalah pilihan bijaksana.
Bukan jenis kerapuhan untuk latah lalu patah, tapi rapuh yang berpinta kekuatan menyangga tugas meski terkikis dalam papan kehidupan.
Rapuh yang sadar menorehkan laku kebaikan, menuturkan makna, memanjingkan kearifan, dan menyampaikan keindahan.

Sunday, October 07, 2012

Pendamping

Seseorang yang berdiri di sampingku.
Menuntunku ke jalan kebaikan
Menjadi panutan dan idaman
Memahamiku dan menerimaku apa adanya.

Tak semua bisa berdiri disampingku
Ada rasa dalam diri ini yang berkata ya dan tidak
Ada kalanya ragu-ragu
tapi pendamping akan selalu mendapatkan jawaban pasti dariku

Entah kapan dia akan berdiri disampingku
tapi yang ku yakin
saat itu aku pasti sudah siap dan lebih dewasa
hingga
tak ada lagi sakit hati
dan pendamping telah berdiri disampingku serta tak akan berpaling.