Matahari terik, sebegitu cepat pagi beranjak dan membangunkan lelap tidur yang serupa nikmat yang dalam. Terkadang dalam senyap pagi ada terang yang bawa damai, tak jarang ada perih melekat, mendalamkan lelah yang tiada henti. Saat cermin itu bertanya tiap kali bersiap untuk meniti menit-menit di luar, ada satu tanya “Bahagiakah aku?”. Tidak berbalas sebab sosok yang hadir yang sekilas entah sepertinya menolak untuk menghiraukan suara itu.
Sepuh-sepuh bayang, dalam matahari sore yang berangsur susut ke Barat. Gelap itu menjelang lagi, kini terang hanya sebatas lampu-lampu kota. Temaram senyap lagi, sebab ia berkawan sepi. Banyak teman tapi hari itu ia gelisah, tanpa kawan untuk beradu cerita. Kiranya dunia ini tidak seperti biasa kala hari itu. Sosok semakin jauh dalam gelap, menelusuri dalam lampu sepeda motor yang dipacu kencang, jalanan sepi karena bukan lagi petang, ia pulang tengah malam, membawa setumpuk lelah dan pertanyaan.
Angin malam menghembuskan ketidakmengertian, semakin mendalam ia mencari jawab di sudut dini hari, tanpa kawan. Ia duduk melantai, merasakan dinginnya malam yang segera terganti pagi. TIdak terjawab apa yang ia tanyakan. Gelisah dan makin gelisah, hingga sosok itu beranjak. Guyuran air membasahi mukanya yang setengah pucat karena belum terisi waktu tidur. Ia gelisah dalam air wudhunya, dibacanya doa dalam hati, biar gelisah datang dan menghilang.
Dunia ini hanya akan membawaku pada rasa lelah, tanpa sesuatu bila aku membuat ini semua serupa gelas kosong, yang rapuh ketika tua nanti, atau menunggu kesempatan penuh ketidaksengajaan untuk terlempar dan menjadi keping-keping. Saat dini hari menjadi saksi bahwa syukur itu utama sebagai seorang manusia, dan pagi ini aku teringat kembali akan dini hari itu. Saat gelisah itu datang membawa ketidaknyamanan hati, kemana harus bertanya ? PadaNya, Tuhanku yang Maha Baik Hati.
No comments:
Post a Comment