Entah sudah berapa lama, aku tinggal berjarak dengan dia (motivator dan smg mjd teman hidup saya). Hanya berjumpa lewat bbm dan mimpi (sesekali). Datang dengan sekantong penuh semangat dan motivasi, dan memang itu yg selalu ku nantikan. Yang aku bilang tadi memang hanya tentang semangat dan motivasi. Tapi rasanya jadi berbeda dengan ada atau ketiadaannya. Aku tak ingat kata menyerah, tak ingat kata malas, saat dia ada.
Sore ini, di depan kamarku ada awan cerah, biru semu jingga. Mungkin di depan kantornya pun begitu. Aku memikirkannya, ia pun sama, mungkin sedang pikirkanku. Namun, lagi-lagi jarak membuat kami hanya bisa saling diam walau ingin berbagi. Hanya bisa termenung, meski ingin tertawa menyapa. Di saat yang sama, waktu berjalan semakin mendekat pada hari pertemuan, pun pada hari berpisah lagi.
Lalu ku tersenyum, dalam indahnya angin sore, dan hangatnya mentari yang perlahan tenggelam, ku titipkan rindu untuk dia. Rindu sama dengan makan rempah, cengkeh sampai kapulaga. Sekuat apapun ingin kau nyatakan, rasa pekatnya tak terdengar.
Aku selalu menanti saat kesempatan untuk bertemu itu datang menghampiri. Namun ingatkan aku, untuk tak menanti waktu untuk berpisah kembali. Walaupun yang kedua selalu datang lebih cepat, walau tanpa dinanti. Di selanya hanya ada dua pilihan, bahagia dan rindu.
Partikel jarak, waktu, rindu, dan bahagia sulit untuk ku mengerti. Tapi untuk apa, mereka juga tak mengerti aku.
Mungkin aku akan merindu sambil bahagia, agar penantianku terasa cepat, penantian untuk segera bertemu.
Jarak, ku titipkan rinduku..
Di depan kamarku, di bawah langit sore yang cerah
14 Februari 2012
No comments:
Post a Comment